Ilustrasi sederhana representasi visual virus.
Pertanyaan mengenai hiv aids berasal dari mana sering kali membawa kita kembali ke awal penemuan dan identifikasi virus yang menyebabkan Sindrom Imunodefisiensi Akuisita (AIDS). AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), sebuah virus yang menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia, membuat tubuh rentan terhadap infeksi oportunistik dan kanker tertentu.
Secara ilmiah, konsensus saat ini menunjukkan bahwa HIV/AIDS berasal dari Afrika Barat dan Tengah. Penelitian ekstensif, termasuk analisis genetik pada sampel virus yang disimpan, mengarahkan pada kesimpulan bahwa virus yang menginfeksi manusia (HIV) berevolusi dari virus yang lebih tua yang menginfeksi primata non-manusia, khususnya simpanse.
Virus leluhur yang paling dekat dikenal sebagai Simian Immunodeficiency Virus (SIV), yang secara alami ada pada banyak spesies simpanse tanpa menyebabkan penyakit serius pada inangnya. Hipotesis yang paling diterima adalah bahwa terjadi penularan silang (spillover) dari SIV dari simpanse ke manusia. Proses ini diyakini terjadi melalui kontak darah atau cairan tubuh selama perburuan atau penanganan daging simpanse liar (bushmeat).
Proses di mana SIV melompat ke manusia dan bermutasi menjadi HIV dikenal sebagai zoonosis. Diperkirakan bahwa peristiwa zoonosis ini terjadi beberapa kali, menghasilkan dua jenis utama HIV yang beredar saat ini: HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 adalah jenis yang lebih umum dan bertanggung jawab atas sebagian besar pandemi global, sementara HIV-2 lebih jarang ditemukan dan terutama terbatas di Afrika Barat.
Analisis filogenetik yang mendalam menunjukkan bahwa galur utama HIV-1 (Subtipe O dan M) kemungkinan besar berasal dari simpanse di wilayah Kamerun Selatan. Para peneliti memperkirakan bahwa peristiwa penularan awal yang menyebabkan pandemi HIV-1 terjadi sekitar tahun 1920-an di atau dekat ibu kota Kinshasa (saat itu Léopoldville) di Republik Demokratik Kongo. Lingkungan perkotaan yang padat, mobilitas populasi yang meningkat akibat kolonialisme, dan praktik kesehatan yang kurang higienis pada masa itu diyakini menjadi faktor kunci yang memungkinkan virus menyebar secara diam-diam di antara populasi manusia sebelum akhirnya menyebar ke seluruh dunia.
Meskipun virusnya sudah ada puluhan tahun sebelumnya, HIV baru dikenali secara resmi sebagai penyebab sindrom baru pada awal dekade 1980-an. Pada tahun 1981, laporan kasus-kasus langka penyakit yang tidak biasa mulai muncul di Amerika Serikat, melibatkan pria gay muda yang menderita pneumonia langka (Pneumocystis pneumonia) dan sarkoma Kaposi. Kondisi ini awalnya diberi nama yang berbeda, seperti GRID (Gay-Related Immune Deficiency).
Titik balik terjadi ketika para ilmuwan menyadari bahwa penyakit ini tidak terbatas pada satu kelompok risiko, melainkan menyerang siapa saja yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang tertekan. Pada tahun 1983, para peneliti di Prancis dan Amerika Serikat secara independen mengidentifikasi bahwa penyebabnya adalah retrovirus baru. Virus ini kemudian dinamai HIV.
Penemuan ini mengakhiri spekulasi liar mengenai hiv aids berasal dari mana dalam konteks penularannya, meskipun asal-usul evolusionernya masih terus diteliti. Pengakuan resmi ini membuka jalan bagi pengembangan tes diagnostik dan, yang terpenting, penelitian intensif untuk pengobatan.
Setelah teridentifikasi, penyebaran HIV melonjak di seluruh dunia, mencapai status pandemi global pada akhir 1980-an. Kecepatan penyebarannya dipicu oleh metode penularan utamanya: hubungan seksual tanpa pelindung, penggunaan jarum suntik bersama, dan penularan dari ibu ke anak. Karena pengetahuan awal yang terbatas, banyak stigma dan kesalahpahaman yang menyertai penyebaran penyakit ini.
Meskipun pertanyaan tentang hiv aids berasal dari mana telah dijawab dari perspektif ilmiah (dari SIV di Afrika), fokus penelitian beralih untuk memahami bagaimana virus bermutasi dan bagaimana cara terbaik untuk menghentikan penyebarannya. Perkembangan terapi antiretroviral (ARV) secara dramatis mengubah prognosis bagi orang yang hidup dengan HIV, mengubahnya dari hukuman mati menjadi kondisi kronis yang dapat dikelola, asalkan pengobatan tersedia dan diakses secara teratur.
Hingga kini, upaya global terus dilakukan untuk memberantas stigma, meningkatkan akses tes, dan memastikan semua orang yang membutuhkan mendapatkan pengobatan. Memahami asal-usul virus membantu kita menghargai betapa cepatnya sebuah patogen dapat melompat antar spesies dan menjadi ancaman kesehatan masyarakat global.