Dia (Nuh) berkata, "Apakah mereka lebih baik ataukah (umat) yang ada di bumi? Atau apakah Kami akan menurunkan siksaan atas mereka tanpa mempedulikan wanita-wanita mereka dan anak-anak mereka?"
Al-Hijr ayat 71 merupakan bagian dari narasi panjang dalam Al-Qur'an mengenai kisah Nabi Nuh AS dan kaumnya. Ayat ini secara spesifik menyoroti dialog atau respons Nabi Nuh terhadap keraguan atau penolakan kaumnya yang ingkar. Dalam konteks ini, Nabi Nuh sedang berhadapan dengan penolakan keras dari masyarakatnya yang menolak untuk beriman dan mengikuti ajarannya.
Ayat ini memuat sebuah tantangan retoris yang sangat kuat dari Nabi Nuh. Ia mengajak kaumnya untuk merefleksikan posisi mereka di hadapan kebenaran yang dibawanya. Inti dari dialog ini adalah perbandingan antara keadaan kaumnya yang durhaka dan potensi kehancuran yang mungkin menimpa mereka.
Ayat ini mengajukan tiga poin perbandingan yang memaksa kaum Nuh untuk berpikir kritis (walaupun mereka keras kepala):
Meskipun Al-Qur'an mengajarkan prinsip pertanggungjawaban individu (sebagaimana ditegaskan dalam ayat lain), Al-Hijr ayat 71 mengingatkan kita akan bahaya apatis dalam lingkungan sosial yang rusak. Ketika sebuah masyarakat secara kolektif memilih jalan kesesatan dan menolak kebenaran, konsekuensi azab (dalam konteks ini, azab duniawi yang disimbolkan oleh banjir bah) dapat meliputi seluruh struktur sosial, meskipun ada elemen pasif seperti anak-anak atau wanita yang tidak aktif melakukan pendurhakaan.
Pelajaran yang dapat dipetik adalah pentingnya amar ma'ruf nahi munkar (menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran) secara aktif. Sikap diam ketika kemaksiatan merajalela dapat membawa kerugian kolektif. Nabi Nuh, dengan segala upayanya, memohon agar keluarganya diselamatkan, namun pada akhirnya, keselamatan datang melalui keimanan dan kepatuhan total terhadap perintah Ilahi. Kehati-hatian yang dimaksud dalam ayat ini adalah kesadaran bahwa tindakan penolakan memiliki dampak yang jauh melampaui individu pelakunya, menyentuh seluruh jaringan kehidupan sosial mereka.
Ayat ini mendesak kaum durhaka untuk bertobat sebelum terlambat. Kehati-hatian (Taqwa) adalah landasan untuk menghindari nasib umat terdahulu. Dalam menghadapi ujian hidup, refleksi diri tentang apakah kita benar-benar lebih baik atau lebih berhak atas rahmat Allah dibandingkan orang lain menjadi sangat penting. Mengakui kelemahan diri dan ketergantungan penuh pada Allah SWT adalah inti dari kehati-hatian spiritual. Jika Nabi Nuh harus berteriak untuk menyadarkan mereka, betapa pentingnya bagi kita untuk terus mengingat peringatan-peringatan ini dalam kehidupan modern yang seringkali terlena oleh kemudahan dan kesenangan duniawi.
Kisah ini berfungsi sebagai pengingat abadi bahwa penundaan taubat dan pengabaian seruan kebenaran akan berujung pada penyesalan yang tidak dapat dipulihkan, sebagaimana yang tergambar dalam situasi genting di mana siksaan sudah di ambang pintu, tanpa memandang status sosial siapa pun yang berada di dalamnya.