Ilustrasi sederhana sistem perakaran jagung.
Pertanyaan mengenai jenis akar pada tanaman jagung—apakah ia memiliki akar serabut atau akar tunggang—adalah hal mendasar dalam botani dan agrikultur. Untuk menjawabnya secara akurat, kita perlu merujuk pada klasifikasi tanaman jagung (Zea mays). Secara universal, **jagung tergolong dalam kelompok tanaman yang memiliki sistem perakaran serabut (fibrous root system)**.
Sistem akar serabut dicirikan oleh adanya banyak akar kecil yang tumbuh dari pangkal batang di bawah permukaan tanah. Akar-akar ini cenderung memiliki ukuran yang relatif sama dan menyebar secara lateral (menyamping) dalam lapisan tanah yang dangkal hingga sedang.
Pada tanaman jagung, akar serabut ini muncul dalam beberapa tingkat. Akar-akar pertama adalah akar embrionik (radikula), namun akar-akar ini biasanya berumur pendek. Sebagian besar sistem perakaran fungsional jagung berasal dari nodus (buku-buku) batang di atas permukaan tanah yang kemudian tumbuh ke bawah menjadi akar adventif. Akar-akar ini menyebar luas, memberikan stabilitas struktural pada tanaman yang tinggi dan seringkali menjadi penopang utama.
Akar tunggang (taproot system) adalah sistem perakaran yang dicirikan oleh satu akar utama yang tumbuh lurus ke bawah secara vertikal, dengan akar-akar samping yang lebih kecil bercabang darinya. Contoh klasik tanaman dengan akar tunggang adalah wortel atau kacang-kacangan (dikotil).
Jagung, sebagai anggota keluarga Poaceae (rumput-rumputan) dan merupakan tanaman monokotil, secara struktural memiliki pola perakaran yang berbeda. Tanaman monokotil hampir secara eksklusif mengembangkan akar serabut. Akar tunggang pada jagung hanya berupa radikula primer yang muncul saat perkecambahan, namun ini cepat digantikan oleh sistem akar serabut yang berasal dari pangkal batang.
Pemahaman bahwa jagung memiliki akar serabut memiliki konsekuensi penting dalam praktik pertanian:
Beberapa studi juga menunjukkan bahwa jagung, terutama varietas hibrida modern, mengembangkan akar penopang (brace roots) yang keluar dari buku-buku batang di atas tanah. Akar ini, meskipun kadang dianggap sebagai bagian dari sistem sekunder, berfungsi memperkuat stabilitas tanaman. Meskipun akar penopang ini penting, struktur dasar dan dominan penyerapan air tetaplah sistem akar serabut yang menyebar di bawah permukaan.
Singkatnya, tanaman budidaya utama seperti jagung, padi, gandum, dan sorgum, yang semuanya adalah monokotil, memiliki sistem akar serabut. Jadi, jawaban definitifnya adalah: **Jagung memiliki sistem akar serabut (fibrous root system)**. Memahami jenis akar ini membantu petani dalam mengoptimalkan pengelolaan tanah, pemupukan, dan irigasi untuk mencapai hasil panen yang maksimal.
Pengetahuan ini memastikan bahwa praktik budidaya yang diterapkan selaras dengan kebutuhan biologis alami tanaman jagung.