Surat Al-Zalzalah (Az-Zalzalah), yang berarti "Kegoncangan", adalah surat ke-99 dalam Al-Qur'an dan merupakan surat Madaniyah. Surat ini sangat ringkas namun memiliki bobot kandungan teologis yang sangat besar, berfokus pada penggambaran dahsyatnya hari kiamat dan pertanggungjawaban amal perbuatan manusia.
Ayat pertama hingga ketiga surat ini (ayat 1-3) langsung memberikan gambaran dramatis tentang kejadian besar yang akan mengguncang bumi. Allah SWT berfirman: "Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi mengeluarkan isi hatinya, dan manusia bertanya, 'Ada apa dengan bumi ini?'". Guncangan ini bukanlah gempa biasa, melainkan goncangan akhir yang menandai berakhirnya kehidupan dunia dan dimulainya perhitungan akhirat.
Kandungan paling menarik dan mendalam dari surat ini terdapat pada ayat keempat: "Pada hari itu, bumi menyampaikan beritanya.". Kata 'beritanya' (akhbaraha) di sini merujuk pada semua kejadian, perbuatan, dan rahasia yang pernah terjadi di atas permukaannya. Bumi, yang selama ini menjadi saksi bisu atas setiap langkah manusia—baik kebaikan maupun keburukan—diperintahkan oleh Allah untuk berbicara dan melaporkan semuanya.
Ayat 4: "Yau-ma-idzin tu-had-ditsu akhbaa-ra-ha." (Pada hari itu, bumi menyampaikan beritanya kepada Tuhan).
Ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun perbuatan, sekecil apa pun, yang tersembunyi dari pengawasan Allah dan akan terungkap di hadapan semua makhluk pada hari tersebut.
Setelah bumi menyampaikan kesaksiannya, ayat kelima dan keenam menjelaskan mekanisme pertanggungjawaban: "Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (wahyu-kan) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kubur mereka dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) atas perbuatan mereka.".
Manusia akan dikumpulkan dalam kelompok-kelompok, mungkin berdasarkan jenis amal atau status mereka, untuk melihat secara langsung hasil dari setiap pilihan hidup mereka. Prinsip keadilan Ilahi ditegaskan dalam ayat selanjutnya.
Inti penekanan Surat Al-Zalzalah adalah pada universalitas pertanggungjawaban amal. Ayat 7 dan 8 merangkum prinsip ini dengan sangat tegas dan mudah diingat:
Ayat 7: "Faman ya’mal mitqoola dhar-ratin khairan yara-hu." (Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya)
Ayat 8: "Wa man ya’mal mitqoola dhar-ratin syarran yara-hu." (Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya).
Kata "Dharrah" sering diterjemahkan sebagai atom atau seberat semut kecil. Ini menunjukkan bahwa Allah menghitung setiap perbuatan baik sekecil apa pun, seperti niat tulus yang terwujud dalam tindakan kecil, akan mendapatkan balasan. Demikian pula, kejahatan sekecil apapun tidak akan terlewatkan dan akan dibalas setimpal. Prinsip keadilan ini menghilangkan segala keraguan tentang keadilan Tuhan.
Surat ini berfungsi sebagai peringatan keras sekaligus penghibur. Bagi orang yang berbuat baik, ia adalah jaminan bahwa pengorbanan kecilnya tidak sia-sia. Bagi yang lalai, ia adalah lonceng peringatan agar segera memperbaiki diri sebelum 'bumi menyampaikan beritanya'.
Secara ringkas, kandungan utama Surat Al-Zalzalah mencakup tiga poin besar:
Surat ini memperkuat keyakinan terhadap hari pembalasan (Yaumul Jaza) dan mendorong umat Islam untuk senantiasa sadar bahwa setiap tindakan di dunia ini sedang dicatat dan akan diperhitungkan secara adil oleh Yang Maha Kuasa.