Dalam lembaran Al-Qur'an, setiap ayat membawa pesan mendalam yang relevan bagi kehidupan manusia sepanjang zaman. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan dalam kajian tauhid dan keyakinan adalah Surat Al-Isra ayat 51. Ayat ini merupakan penegasan fundamental mengenai konsep kebangkitan (ba'ats) setelah kematian, sebuah pilar utama dalam akidah Islam.
Ayat ini secara tegas menantang keraguan orang-orang yang mengingkari adanya kehidupan kedua. Pertanyaan retoris yang diajukan oleh Allah SWT memiliki kekuatan yang luar biasa dalam menggugah akal dan hati setiap pendengarnya.
Bunyi dan Tafsir Surat Al-Isra Ayat 51
"Katakanlah: '(Bahkan siapa yang akan menghidupkan kami kembali?' Katakanlah: 'Dia yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama.' Kemudian mereka akan menggelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: 'Bilakah itu?' Katakanlah: 'Mungkin sudah dekat'." (QS. Al-Isra [17]: 51)
Terjemahan: Katakanlah: "Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali?" Katakanlah: "Dia (Allah) Yang menciptakan kamu pada kali yang pertama." Lalu mereka menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: "Bilakah itu (terjadi)?" Katakanlah: "Mungkin sudah dekat."
Ayat ini adalah respons langsung terhadap skeptisisme kaum musyrikin Mekkah yang ketika ditanya mengenai kebangkitan setelah mati, mereka merespons dengan nada mengejek atau meragukan. Mereka bertanya dengan nada sinis, "Siapa yang akan membangkitkan kita kembali?" Seolah-olah hal itu mustahil bagi siapapun.
Jawaban Allah melalui Nabi Muhammad SAW sangat logis dan berdasarkan bukti empiris yang tak terbantahkan: Bukti pertama adalah penciptaan awal. Jika Allah mampu menciptakan manusia dari ketiadaan (atau dari setetes mani yang hina), maka mengembalikan mereka pada kehidupan kedua jauh lebih mudah. Allah berfirman: "Dia (Allah) Yang menciptakan kamu pada kali yang pertama."
Logika ini sangat kuat. Menciptakan sesuatu yang baru dari nol membutuhkan kekuatan yang maha dahsyat. Mengulang proses yang sudah pernah dilakukan (menghidupkan kembali) seharusnya lebih mudah bagi Zat yang Maha Kuasa. Keraguan mereka kemudian berlanjut dengan pertanyaan kedua yang bernada mendesak: "Bilakah itu terjadi?" Mereka ingin kepastian waktu, seolah-olah batas waktu adalah masalah bagi Tuhan semesta alam.
Kedekatan Waktu Kebangkitan
Jawaban penutup ayat ini menyimpan makna yang mendalam dan memberikan peringatan keras: "Mungkin sudah dekat." Mengapa menggunakan kata "mungkin dekat"? Para mufassir menjelaskan beberapa perspektif:
- Kedekatan Waktu Relatif: Bagi Allah, rentang waktu ribuan tahun adalah seperti sekejap mata. Apa yang tampak lama bagi manusia fana adalah sangat singkat bagi Sang Pencipta.
- Peringatan Dini: Ini adalah peringatan agar mereka tidak menunda taubat. Karena ketika kematian datang, waktu untuk bertaubat sudah habis, dan hari kiamat akan segera menyusul bagi setiap individu.
- Dekatnya Kiamat Kubur: Bagi setiap orang yang meninggal, saat kebangkitan (di alam barzakh dan kemudian kiamat) terasa sangat dekat, karena mereka tidak lagi merasakan berlalunya waktu duniawi.
Oleh karena itu, Al-Isra ayat 51 bukan sekadar jawaban teologis; ia adalah alat dakwah yang menggunakan dialektika logika untuk menancapkan keyakinan pada hari pembalasan.
Implikasi Spiritual Ayat 51
Pemahaman mendalam terhadap ayat ini harus berdampak signifikan pada perilaku kita. Ketika kita yakin sepenuhnya bahwa Allah sanggup menghidupkan kita kembali, maka pandangan hidup kita akan berubah total. Pertama, kesadaran akan pertanggungjawaban amal menjadi nyata. Kita tidak lagi hidup seolah-olah ini adalah satu-satunya kehidupan.
Kedua, ayat ini menumbuhkan optimisme dalam menghadapi kesulitan. Jika Allah mampu menciptakan alam semesta dan membangkitkan kita dari debu, maka masalah duniawi sekecil apapun pasti dapat Dia selesaikan. Penekanan pada 'penciptaan pertama' adalah pengingat bahwa Sang Pencipta tidak pernah gagal dalam proyek-Nya.
Ketiga, rasa takut terhadap kematian berkurang. Kematian hanyalah transisi menuju kehidupan yang lebih kekal, yang telah dipersiapkan oleh Allah SWT. Keraguan yang ditunjukkan oleh orang-orang kafir dalam ayat tersebut adalah keraguan manusiawi yang seringkali muncul ketika logika terbatas bertemu dengan kuasa Tuhan yang tak terbatas.
Illustrasi visual seringkali membantu memperkuat makna ayat yang abstrak. Kebangkitan, seperti tunas yang muncul dari tanah yang mati, melambangkan kehidupan baru yang pasti datang.
Sebagai penutup, Surat Al-Isra ayat 51 adalah pengingat tegas bahwa logika manusia terbatas, tetapi kekuasaan Allah tidak mengenal batasan. Meyakini ayat ini berarti menempatkan seluruh harapan dan ketakutan kita pada Zat yang telah membuktikan diri-Nya sebagai Maha Pencipta, yang sanggup menghidupkan kembali apapun yang telah Dia ciptakan.