Kegunaan Raksa: Manfaat, Sejarah, dan Peringatan Penting
Raksa, atau merkuri (Hg), adalah elemen kimia langka yang memiliki sifat unik. Berupa cairan metalik berwarna perak pada suhu kamar, raksa telah memikat perhatian manusia selama ribuan tahun. Sifatnya yang cair, konduktivitas listrik yang baik, dan kemampuannya membentuk amalgam dengan logam lain menjadikannya bahan yang menarik untuk berbagai aplikasi. Namun, di balik kegunaannya yang beragam, raksa juga menyimpan potensi bahaya yang signifikan bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
Sejarah Penggunaan Raksa
Catatan sejarah menunjukkan bahwa peradaban kuno seperti Mesir, Yunani, dan Tiongkok telah mengenal dan menggunakan raksa. Bangsa Mesir Kuno menggunakannya dalam kosmetik, sementara bangsa Tiongkok percaya raksa dapat memperpanjang umur. Bangsa Romawi menggunakannya untuk pengobatan penyakit kulit dan sebagai bahan dalam pembuatan pewarna. Di Eropa abad pertengahan, raksa sempat menjadi bahan utama dalam alkimia, sebuah praktik yang bertujuan mengubah logam biasa menjadi emas, serta dalam pengobatan, meskipun seringkali dengan efek samping yang merugikan.
Kegunaan Tradisional Raksa
Secara tradisional, raksa telah dimanfaatkan dalam berbagai bidang:
Termometer dan Barometer: Sifat ekspansi dan kontraksi raksa yang stabil terhadap perubahan suhu menjadikannya komponen vital dalam pembuatan termometer dan barometer. Kenaikan atau penurunan level raksa dalam tabung kaca memberikan indikasi akurat mengenai suhu atau tekanan atmosfer.
Saklar Listrik: Sifat konduktif raksa yang baik memungkinkannya digunakan dalam saklar listrik, terutama pada saklar yang membutuhkan kontak yang andal dan tahan korosi.
Lampu Fluorescent: Uap raksa dalam tabung lampu fluorescentlah yang ketika dialiri listrik menghasilkan sinar ultraviolet, yang kemudian diubah menjadi cahaya tampak oleh lapisan fosfor di dinding tabung.
Industri Pertambangan Emas: Salah satu kegunaan raksa yang paling berbahaya namun cukup luas adalah dalam proses amalgamasi untuk menambang emas. Raksa mampu melarutkan emas, membentuk amalgama yang mudah dipisahkan dari bijih. Setelah itu, emas dipisahkan dengan memanaskan amalgama, sehingga raksa menguap. Proses ini sangat merusak lingkungan dan kesehatan penambang.
Industri Gigi (Amalgam Gigi): Selama bertahun-tahun, amalgam yang mengandung raksa, perak, timah, dan tembaga, menjadi pilihan populer untuk tambalan gigi karena daya tahan dan biayanya yang relatif murah.
Baterai: Beberapa jenis baterai, terutama baterai alkaline lama, menggunakan raksa sebagai bahan tambahan untuk mencegah korosi dan menjaga kinerja baterai.
Industri Kimia: Raksa digunakan sebagai katalis dalam produksi beberapa bahan kimia industri, seperti vinil klorida, bahan baku pembuatan PVC.
Industri Farmasi (Historis): Dalam sejarah pengobatan, senyawa raksa pernah digunakan sebagai obat untuk sifilis dan penyakit lainnya, meskipun penggunaannya telah lama ditinggalkan karena toksisitasnya yang tinggi.
Potensi Bahaya dan Dampak Negatif Raksa
Meskipun memiliki kegunaan, penting untuk menyadari bahwa raksa adalah logam berat yang sangat beracun. Paparan raksa, terutama dalam bentuk metilmerkuri (bentuk organik yang umum ditemukan dalam ikan), dapat menyebabkan kerusakan serius pada sistem saraf, ginjal, dan organ tubuh lainnya. Anak-anak dan janin yang sedang berkembang sangat rentan terhadap efek toksik raksa.
Keracunan Saraf: Metilmerkuri dapat menembus sawar darah-otak dan plasenta, menyebabkan gangguan perkembangan otak pada janin, masalah memori, gangguan penglihatan dan pendengaran, serta masalah motorik.
Kerusakan Ginjal: Paparan kronis terhadap raksa anorganik dapat merusak ginjal.
Gangguan Perkembangan: Anak-anak yang terpapar raksa selama kehamilan dapat mengalami masalah perkembangan kognitif dan motorik.
Dampak Lingkungan: Pelepasan raksa ke lingkungan, baik dari aktivitas industri maupun dari produk yang dibuang sembarangan (misalnya, termometer pecah atau lampu fluorescent bekas), dapat mencemari air dan tanah. Raksa kemudian dapat terakumulasi dalam rantai makanan, terutama dalam ikan, yang menjadi sumber paparan utama bagi manusia.
Upaya Pengurangan Penggunaan dan Pengelolaan Raksa
Mengingat bahayanya, banyak negara dan organisasi internasional telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi penggunaan raksa. Konvensi Minamata tentang Merkuri adalah perjanjian global yang bertujuan melindungi kesehatan manusia dan lingkungan dari emisi dan pelepasan raksa. Upaya ini meliputi:
Mengganti produk yang mengandung raksa dengan alternatif yang lebih aman (misalnya, termometer digital, lampu LED).
Menghentikan penggunaan raksa dalam proses industri, termasuk pertambangan skala kecil.
Meningkatkan pengelolaan limbah berbahaya yang mengandung raksa.
Meningkatkan kesadaran publik tentang bahaya raksa dan cara penanganannya yang aman.
Memahami kegunaan historis raksa membantu kita mengapresiasi sifat unik elemen ini. Namun, kesadaran akan toksisitasnya yang tinggi sangat krusial. Peralihan menuju teknologi yang lebih aman dan pengelolaan yang bertanggung jawab adalah kunci untuk meminimalkan risiko kesehatan dan lingkungan yang ditimbulkan oleh logam berat ini. Konsumen perlu berhati-hati dalam menggunakan produk yang mungkin mengandung raksa dan membuangnya dengan cara yang benar untuk mencegah pencemaran lebih lanjut.