Dalam lanskap spiritual Islam, terdapat dua lokasi yang memegang peranan sentral dan tak tergantikan: Masjidil Haram di Mekkah Al-Mukarramah dan Masjidil Aqsa di Al-Quds (Yerusalem). Keduanya adalah titik fokus dalam kehidupan seorang Muslim, baik melalui ritual ibadah maupun sejarah kenabian yang kaya. Meskipun keduanya adalah rumah Allah yang disucikan, perbedaan geografis dan fungsi spesifiknya memberikan keunikan tersendiri bagi masing-masing masjid suci ini.
Masjidil Haram adalah kiblat seluruh umat Islam di dunia. Di jantung masjid ini berdiri Ka’bah, Baitullah, rumah suci yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Keagungan Masjidil Haram tidak hanya terletak pada arsitekturnya yang megah dan terus berkembang, tetapi terutama pada fungsinya sebagai pusat ibadah haji dan umrah. Setiap Muslim yang mampu diwajibkan sekali seumur hidup untuk menunaikan ibadah haji di tempat ini. Shalat di Masjidil Haram memiliki keutamaan yang luar biasa, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadis, nilainya setara dengan seratus ribu kali lipat shalat di tempat lain.
Area thawaf mengelilingi Ka’bah adalah manifestasi nyata dari persatuan umat. Jutaan Muslim dari berbagai ras, bahasa, dan negara berkumpul, bergerak dalam satu irama, menunjukkan ketundukan total kepada Allah SWT. Kehadiran sumur Zamzam di area ini menambah dimensi keajaiban historis dan spiritualnya. Masjidil Haram adalah destinasi akhir dari perjalanan iman, tempat di mana seorang hamba merasakan kedekatan paling intim dengan Penciptanya melalui ritual yang diwariskan sejak zaman para nabi.
Masjidil Aqsa, yang sering kali merujuk pada kompleks Al-Haram Asy-Syarif secara keseluruhan (termasuk Kubah Batu/Dome of the Rock), memiliki status istimewa sebagai kiblat pertama umat Islam sebelum dipindahkan ke Ka’bah. Masjid ini adalah masjid suci ketiga dalam Islam, yang keutamaan shalat di dalamnya dilipatgandakan hingga seribu kali lipat dibandingkan shalat di masjid biasa (selain Masjid Nabawi).
Signifikansi utama Masjidil Aqsa terkait erat dengan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Dari pelataran Masjidil Aqsa inilah Rasulullah SAW melakukan perjalanan malam menuju langit (Mi’raj) bertemu dengan Allah SWT. Keistimewaan ini mengukuhkan kedudukan Al-Quds sebagai kota suci bagi tiga agama samawi. Selain itu, banyak nabi besar yang pernah tinggal, berdakwah, dan bahkan menjadi imam shalat di masjid ini, termasuk Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS, yang turut andil dalam pembangunan kompleks suci ini.
Hubungan antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa bukanlah sekadar hubungan geografis, melainkan ikatan historis yang terpatri dalam ajaran Islam. Baik Masjidil Haram maupun Masjidil Aqsa dibangun di atas fondasi tauhid yang sama. Dalam riwayat pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, terdapat petunjuk bahwa pembangunan Masjidil Aqsa dilakukan oleh keturunan Nabi Ibrahim juga. Keduanya adalah peninggalan para nabi terdahulu yang harus dijaga kesuciannya.
Ziarah ke Mekkah dan Madinah (Masjid Nabawi) sering kali melengkapi spiritualitas seorang Muslim, namun kunjungan dan kepedulian terhadap Masjidil Aqsa juga merupakan bagian integral dari keimanan. Keberadaan Masjidil Aqsa di bumi Palestina juga menjadikannya isu penting yang menyentuh hati umat Islam di seluruh dunia. Bagi seorang mukmin, mengingat dan mendoakan keberlangsungan fungsi Masjidil Aqsa adalah bentuk penegasan komitmen terhadap warisan kenabian dan keadilan.
Secara ringkas, Masjidil Haram adalah pusat ibadah haji dan titik fokus ritual global, sedangkan Masjidil Aqsa adalah saksi bisu perjalanan agung Nabi Muhammad SAW dan masjid tertua kedua yang memiliki keutamaan ibadah luar biasa. Kedua masjid ini, walau terpisah jarak ribuan kilometer, bersatu dalam satu bingkai pengabdian total kepada Allah SWT.
Umat Islam senantiasa berharap agar kedua rumah suci ini senantiasa aman, makmur, dan dapat diakses oleh seluruh umat untuk menunaikan ibadah mereka dengan khusyuk dan damai.