Aktivitas seksual sering kali membawa pertanyaan seputar durasi dan kontrol atas orgasme. Bagi sebagian orang, menahan mani atau menunda ejakulasi adalah keterampilan yang ingin dikuasai, baik untuk meningkatkan kepuasan pasangan, mengelola waktu klimaks, atau karena alasan kesehatan tertentu. Meskipun secara biologis ejakulasi adalah refleks alami, terdapat beberapa teknik yang dapat membantu seseorang memiliki kontrol lebih baik. Namun, penting untuk memahami bahwa upaya menahan ejakulasi harus dilakukan dengan bijak dan tanpa paksaan ekstrem.
Motivasi untuk menahan ejakulasi sangat beragam. Alasan paling umum adalah untuk memperpanjang durasi hubungan seksual, yang sering kali dianggap meningkatkan kenikmatan bagi kedua belah pihak. Beberapa pria mungkin merasa kurang percaya diri karena ejakulasi yang terlalu cepat (dikenal sebagai ejakulasi dini), sehingga menahan mani menjadi cara untuk berlatih kendali diri. Selain itu, dalam konteks praktik tertentu seperti Tantra atau filosofi tertentu, penahanan mani dikaitkan dengan pelestarian energi vital.
Mengendalikan momen klimaks melibatkan kesadaran tinggi terhadap sensasi tubuh, khususnya menjelang titik tidak bisa kembali (Point of No Return). Berikut adalah beberapa metode yang sering direkomendasikan:
Ini adalah metode paling populer. Lakukan stimulasi hingga Anda merasa sangat dekat dengan ejakulasi—hampir mencapai "Point of No Return"—lalu segera hentikan stimulasi total selama 30 hingga 60 detik, atau sampai gairah sedikit menurun. Setelah itu, lanjutkan stimulasi secara perlahan. Ulangi siklus ini beberapa kali sebelum membiarkan diri Anda mencapai orgasme.
Saat gairah memuncak, berhentilah dan tekan dengan kuat bagian kepala penis (glans) atau area di bawah kepala penis selama beberapa detik hingga dorongan ejakulasi mereda. Teknik ini mengalihkan fokus dari sensasi orgasme menuju tekanan fisik.
Sadarilah pernapasan Anda. Pernapasan cepat biasanya menyertai peningkatan gairah. Coba tarik napas dalam dan perlahan. Selain itu, latihan Kegel (mengencangkan otot pubococcygeus, otot yang digunakan untuk menghentikan aliran urin) dapat membantu memperkuat otot yang terlibat dalam ejakulasi, memberikan kontrol lebih besar.
Meskipun teknik kontrol jangka pendek umumnya aman, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait menahan ejakulasi secara paksa dan berulang-ulang. Secara medis, tubuh akan mencari jalan keluar untuk cairan semen. Jika ejakulasi ditahan secara agresif, ada kemungkinan bahwa cairan mani akan dilepaskan melalui mekanisme yang disebut "ejakulasi basah" atau mimpi basah saat tidur malam.
Beberapa mitos mengklaim bahwa menahan mani menyebabkan masalah serius seperti kanker prostat atau masalah kandung kemih. Mayoritas penelitian ilmiah tidak menemukan korelasi langsung antara ejakulasi yang tertunda sesekali dengan penyakit serius. Namun, menahan paksa yang ekstrem dan berkepanjangan dapat menyebabkan ketidaknyamanan sementara atau peningkatan tekanan pada saluran reproduksi.
Kunci sukses dalam menguasai kontrol bukanlah tentang melawan dorongan secara total, melainkan tentang belajar mengidentifikasi dan menanggapi level gairah Anda. Jika Anda terlalu fokus pada "harus menahan," stres dan kecemasan justru dapat mempercepat ejakulasi. Sebaliknya, fokuskan perhatian pada sensasi yang Anda rasakan—sentuhan, suhu, dan ritme—dan gunakan teknik yang telah disebutkan untuk mengatur ritme tersebut secara sadar. Latihan yang konsisten, baik sendirian maupun bersama pasangan, sangat penting untuk meningkatkan kemampuan menahan mani secara efektif dan menyenangkan.
Selalu prioritaskan komunikasi dengan pasangan jika Anda mencoba teknik baru, dan jika Anda mengalami kecemasan signifikan mengenai performa seksual atau ejakulasi dini, berkonsultasi dengan profesional kesehatan adalah langkah terbaik.