Pertanyaan mengenai nasib akhir penderita HIV/AIDS sering kali merujuk pada pertanyaan yang menyakitkan: penderita hiv aids pada akhirnya meninggal karena apa? Jawaban medis yang paling akurat adalah bahwa kematian tidak disebabkan langsung oleh virus HIV itu sendiri, melainkan oleh kegagalan sistem kekebalan tubuh yang diakibatkannya, yang membuka pintu bagi infeksi oportunistik dan kanker tertentu.
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang secara spesifik menargetkan dan menghancurkan sel CD4+ T-helper. Sel-sel ini adalah komandan utama dalam sistem pertahanan tubuh manusia. Tanpa mereka, tubuh menjadi buta dan lumpuh dalam mendeteksi serta melawan patogen lain.
Ketika jumlah sel CD4 turun drastis (di bawah 200 sel per milimeter kubik darah), kondisi ini didefinisikan sebagai AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Pada fase ini, tubuh telah kehilangan sebagian besar kemampuannya untuk melawan.
Setelah sistem imun runtuh, penderita berada dalam kondisi rentan terhadap berbagai penyakit yang biasanya mudah diatasi oleh orang sehat. Penyebab kematian pada penderita AIDS secara mayoritas dikategorikan menjadi tiga kelompok utama:
Ini adalah penyebab kematian paling umum. Infeksi oportunistik adalah infeksi yang "mengambil kesempatan" dari lemahnya pertahanan tubuh. Beberapa IO yang sering berakibat fatal meliputi:
Sistem imun yang sehat biasanya mengenali dan menghancurkan sel-sel kanker yang baru tumbuh. Pada penderita AIDS, kemampuan ini hilang, memungkinkan jenis kanker tertentu berkembang pesat. Kanker yang paling sering dikaitkan dengan AIDS dan menjadi penyebab kematian adalah:
Kondisi kronis lain seperti gagal ginjal, penyakit kardiovaskular, atau bahkan komplikasi dari pengobatan HIV yang intensif (meskipun ARV modern jauh lebih aman) dapat diperburuk oleh kondisi tubuh yang sudah sangat tertekan oleh AIDS.
Penting untuk ditekankan bahwa narasi bahwa penderita hiv aids pada akhirnya meninggal karena AIDS adalah pandangan masa lalu, sebelum tersedianya pengobatan modern. Sejak ditemukannya terapi Antiretroviral (ARV), prognosis telah berubah drastis.
ARV bekerja dengan menekan replikasi virus HIV hingga ke tingkat yang tidak terdeteksi (Undetectable = Untransmittable atau U=U). Ketika virus ditekan, sel CD4 dapat pulih, sistem kekebalan menguat, dan risiko terkena infeksi oportunistik serta kanker terkait AIDS turun signifikan. Penderita HIV yang menjalani pengobatan secara teratur dapat memiliki harapan hidup yang hampir sama dengan populasi umum dan meninggal karena sebab-sebab umum, bukan karena AIDS.
Kesimpulannya, ketika seseorang yang tidak diobati atau pengobatannya gagal memasuki stadium AIDS, kematian datang akibat komplikasi fatal dari infeksi oportunistik atau keganasan yang tidak mampu dilawan oleh sistem imun yang lumpuh.