Akhlak, dalam terminologi Islam, merujuk pada perilaku, karakter, dan disposisi moral seseorang. Ketika dikaji melalui lensa Tasawuf (sufisme), pemahaman mengenai baik dan buruk (al-hasanah dan as-sayyi'ah) melampaui sekadar kepatuhan formal terhadap syariat. Tasawuf menekankan dimensi internal; bagaimana kondisi hati (qalb) memengaruhi seluruh tindakan lahiriah.
Bagi ahli tasawuf, kebaikan sejati tidak hanya diukur dari ketiadaan perbuatan dosa secara lahiriah, tetapi lebih kepada kemurnian niat dan keadaan hati. Tindakan yang terlihat baik (seperti sedekah) bisa menjadi buruk jika didasari oleh riya’ (pamer). Sebaliknya, tindakan yang secara syariat tampak netral atau bahkan tersembunyi, dapat digolongkan baik jika dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT.
Konsep dasar dalam tasawuf adalah perjuangan melawan hawa nafsu (jihadun nafs). Hawa nafsu ini seringkali menjadi sumber segala perilaku buruk. Perilaku buruk dalam tasawuf sering dikaitkan dengan maqamat (tingkatan spiritual) yang belum terlampaui, seperti sifat kikir, hasad (dengki), ujub (merasa diri lebih baik), dan cinta dunia yang berlebihan. Semua ini adalah penyakit hati yang menghalangi seorang hamba mendekat kepada Sang Pencipta.
Kebaikan dalam tasawuf adalah segala sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah dan membersihkan hati dari kotoran spiritual. Ini mencakup sifat-sifat terpuji yang disebut akhlak mahmudah, seperti sabar (shabr), syukur, tawakal, qana’ah (merasa cukup), dan cinta Ilahi (mahabbah).
Kebaikan tertinggi adalah mencapai ihsan, yaitu beribadah seolah-olah melihat Allah. Ketika hati telah mencapai derajat ini, semua tindakan yang muncul darinya otomatis akan bernilai baik, karena ia selalu berada dalam pengawasan Ilahi. Seorang sufi yang telah mencapai makam tertentu akan menemukan bahwa membebaskan diri dari belenggu ego adalah fondasi dari setiap amal baik. Misalnya, kerendahan hati (tawadu') dianggap jauh lebih berharga daripada puasa sunnah yang dilakukan dengan perasaan superioritas.
Keburukan dalam perspektif tasawuf bersifat multi-dimensi. Selain dosa-dosa besar yang dilarang syariat, fokus utama adalah pada ‘dosa-dosa halus’ atau penyakit hati. Dosa halus ini seringkali tidak disadari pelakunya, namun dampaknya sangat merusak perjalanan spiritual.
Sebagai contoh, ketika seorang murid melakukan amalan baik, namun hatinya masih menyimpan rasa bangga (kibr) atau mengharapkan pujian manusia (riya’), maka amal tersebut dicemaskan akan menjadi buruk di sisi Allah. Para guru sufisme mengajarkan bahwa sifat sombong adalah racun utama yang harus dienyahkan. Oleh karena itu, pengenalan diri yang jujur (muhasabah) menjadi alat utama untuk mengidentifikasi dan menyingkirkan benih-benih keburukan yang tersembunyi di kedalaman jiwa.
Untuk membedakan antara baik dan buruk secara konsisten, seorang penempuh jalan spiritual harus rajin melakukan muraqabah (pengawasan diri). Muraqabah adalah kondisi waspada konstan terhadap potensi munculnya dorongan negatif dari nafsu atau bisikan setan (waswas). Jika dorongan yang muncul itu menuntun pada kelembutan, pengorbanan, dan kedekatan dengan Tuhan, maka itu adalah petunjuk kebaikan. Sebaliknya, dorongan yang memicu keterikatan pada dunia, penolakan terhadap kebenaran, atau penyebaran permusuhan adalah manifestasi dari keburukan yang harus segera dipadamkan.
Kesimpulannya, akhlak tasawuf mengubah parameter baik dan buruk. Kebaikan adalah aktualisasi sifat-sifat Ilahi dalam diri, sementara keburukan adalah kegagalan membebaskan hati dari kungkungan ego dan ilusi duniawi. Jalan menuju kebaikan hakiki adalah pembersihan total hati dari segala sesuatu selain Allah.