Pengobatan ARV, atau Terapi Antiretroviral, adalah kombinasi obat-obatan yang digunakan untuk mengobati infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Tujuan utama dari terapi ini bukanlah untuk menyembuhkan HIV sepenuhnya—karena virus ini masih berdiam diri dalam tubuh—melainkan untuk menekan jumlah virus (viral load) hingga ke tingkat yang sangat rendah sehingga sistem kekebalan tubuh (imunitas) dapat pulih dan berfungsi kembali secara normal.
Bagi Orang dengan HIV (ODHA), memulai pengobatan ARV sesegera mungkin setelah diagnosis adalah langkah krusial. Perawatan ini mengubah HIV dari penyakit yang hampir pasti fatal menjadi kondisi kronis yang dapat dikelola, memungkinkan individu untuk hidup sehat, produktif, dan memiliki harapan hidup yang hampir sama dengan populasi umum.
HIV bekerja dengan menyerang dan menghancurkan sel CD4, jenis sel darah putih yang merupakan bagian vital dari sistem kekebalan tubuh. Obat ARV bekerja dengan mengganggu siklus hidup virus pada berbagai tahapan replikasi.
Pengobatan modern jarang menggunakan satu jenis obat saja. Sebaliknya, kombinasi dua atau lebih obat dari kelas yang berbeda digunakan untuk memastikan penekanan virus yang lebih efektif dan meminimalkan risiko resistensi. Kelas obat utama meliputi:
Kombinasi standar yang direkomendasikan saat ini seringkali melibatkan dua NRTI ditambah satu INSTI atau NNRTI. Pemilihan regimen pengobatan ARV selalu disesuaikan oleh dokter berdasarkan kondisi kesehatan pasien, potensi interaksi obat, dan ketersediaan obat.
Kunci utama keberhasilan pengobatan ARV adalah kepatuhan minum obat (adherence) 100%. Ini berarti meminum semua dosis obat sesuai jadwal yang ditentukan setiap hari, tanpa melewatkan dosis.
Mengapa kepatuhan sangat penting?
Dokter dan konselor akan selalu menekankan pentingnya menemukan strategi personal untuk memastikan kepatuhan, mulai dari mengatur alarm hingga mengaitkan minum obat dengan kegiatan harian rutin.
Seperti semua obat kuat, pengobatan ARV dapat menimbulkan efek samping. Pada awal terapi, beberapa orang mungkin mengalami gejala ringan seperti mual, diare, kelelahan, atau pusing. Namun, obat-obatan ARV generasi baru umumnya memiliki toleransi yang jauh lebih baik.
Efek samping jangka panjang, meskipun jarang, bisa meliputi masalah metabolisme atau gangguan ginjal/hati. Oleh karena itu, pemantauan rutin sangat diperlukan. Pemantauan meliputi:
Jika muncul efek samping yang mengganggu, pasien tidak boleh menghentikan obat sendiri, melainkan harus segera berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan agar dosis atau jenis obat dapat disesuaikan tanpa mengorbankan efektivitas terapi. Dengan manajemen yang tepat, pengobatan ARV merupakan terapi yang aman dan efektif untuk seumur hidup.