Teks Arab QS Al-Isra Ayat 1
Transliterasi
Subhaanallazii asraa bi'abdihii lailam minal Masjidil Haraami ilal Masjidil Aqshal-lazii baaraknaa hawlahu li-nuriya-hu min aayaatinaa, innahuu huwas-Samii'ul Basiir.
Terjemahan Departemen Agama RI
Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidil-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
Kajian Mendalam Ayat
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj, dibuka dengan sebuah pernyataan agung yang memuliakan Allah SWT. Ayat pertama ini merupakan landasan utama bagi peristiwa Isra' Mi'raj, salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW. Kata kunci pertama, "Subhaanalladzii" (Mahasuci Allah), segera menegaskan bahwa peristiwa yang akan diceritakan bukanlah peristiwa biasa yang dapat terjadi tanpa campur tangan ilahi. Ke-Maha-sucian Allah menjadi penanda bahwa perjalanan ini berada di luar jangkauan logika manusia normal.
Ayat ini menjelaskan perjalanan fenomenal "pada suatu malam" (lailan), yaitu perjalanan malam hari. Perjalanan ini dimulai "dari Masjidilharam" (Mekkah) menuju "Masjidil-Aqsa" (Yerusalem). Peristiwa ini, yang dikenal sebagai Isra', membuktikan keagungan dan kuasa Allah yang mampu memindahkan Nabi dalam waktu singkat melintasi jarak ratusan kilometer. Masjidil-Aqsa sendiri digambarkan sebagai tempat "yang telah Kami berkahi sekelilingnya", menekankan pentingnya tempat tersebut, bukan hanya sebagai tujuan akhir perjalanan, tetapi juga sebagai pusat spiritual dan keberkahan yang dijaga oleh Allah.
Tujuan utama dari perjalanan luar biasa ini adalah "agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami". Ini menegaskan bahwa Isra' Mi'raj bukan sekadar hiburan atau perjalanan fisik, melainkan sebuah wahyu visual dan spiritual yang bertujuan menguatkan keyakinan Nabi Muhammad SAW serta memberikan bukti konkret atas kekuasaan Allah kepada beliau dan umatnya. Tanda-tanda ini mencakup pemandangan alam, peradaban, hingga rahasia alam semesta yang diperlihatkan saat Mi'raj (kenaikan ke langit).
Ayat ditutup dengan penegasan sifat Allah, "Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat" (As-Samii'ul Basiir). Ini adalah konklusi yang sangat relevan. Allah Maha Mendengar setiap bisikan doa dan pengakuan Nabi sepanjang perjalanan, dan Maha Melihat setiap detail peristiwa yang disaksikan Nabi. Sifat ini meyakinkan bahwa seluruh peristiwa agung tersebut berada dalam pengawasan penuh dan pengetahuan mutlak-Nya.
Pemahaman mendalam terhadap Al-Isra ayat 1 memberikan perspektif bahwa mukjizat seringkali merupakan kombinasi antara perjalanan fisik (Isra') dan pengalaman spiritual mendalam (Mi'raj), yang semuanya bersumber dari Kehendak Tunggal Allah SWT, yang Maha Sempurna dalam pendengaran dan penglihatan-Nya terhadap seluruh ciptaan. Peristiwa ini menjadi pengingat abadi akan keutamaan Al-Quds (Yerusalem) sebagai kiblat pertama umat Islam.