Menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Gigi tidak hanya menuntut penguasaan ilmu klinis dan praktik, tetapi juga kemampuan untuk berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan melalui karya ilmiah. Penulisan sarjana, baik itu berupa skripsi, laporan kasus, atau penelitian, merupakan gerbang pertama bagi calon dokter gigi untuk menjadi ilmuwan klinis yang kredibel. Persiapan yang matang sangat krusial untuk memastikan penelitian yang dilakukan relevan, metodologis, dan mudah dipahami.
Setiap karya ilmiah kedokteran gigi, terlepas dari format spesifik yang ditetapkan universitas, umumnya mengikuti struktur baku yang mempermudah pembaca dalam mengikuti alur logika penelitian. Struktur ini meliputi:
Penulisan sarjana di bidang kedokteran gigi harus menyoroti isu-isu yang relevan langsung dengan kesehatan rongga mulut masyarakat. Apakah itu mengenai efektivitas bahan tambal gigi terbaru, prevalensi karies pada populasi tertentu, atau inovasi dalam teknik bedah mulut minor. Pemilihan topik yang tepat akan meningkatkan motivasi Anda sekaligus memberikan kontribusi nyata.
Dalam metodologi, pastikan Anda memahami etika penelitian. Jika studi melibatkan subjek manusia (pasien), prosedur persetujuan etis (ethical clearance) harus dipenuhi sebelum data dikumpulkan. Kesalahan dalam prosedur pengambilan sampel atau analisis data dapat menyebabkan hasil yang bias dan mengurangi nilai ilmiah karya Anda secara keseluruhan. Konsultasikan secara rutin dengan dosen pembimbing mengenai validitas instrumen yang Anda gunakan.
Integritas akademik adalah harga mati dalam dunia kedokteran gigi. Semua kutipan, baik parafrase maupun kutipan langsung, wajib dicantumkan sumbernya. Mahasiswa harus menguasai gaya sitasi yang ditetapkan institusi, misalnya Vancouver atau APA. Penggunaan aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley atau Zotero sangat disarankan untuk menghindari kesalahan penulisan daftar pustaka yang memakan waktu. Plagiarisme, bahkan yang tidak disengaja karena ketidaktahuan format penulisan, akan berakibat serius.
Setelah draf pertama selesai, proses revisi menjadi kunci. Bahasa ilmiah harus lugas, jelas, dan formal. Hindari penggunaan jargon yang tidak perlu atau bahasa sehari-hari. Periksa kembali koherensi antar paragraf dan konsistensi terminologi. Meminta rekan sejawat atau pembimbing untuk membaca dan memberikan masukan kritis (peer review) sebelum penyerahan akhir akan sangat membantu mengidentifikasi kelemahan yang terlewatkan. Penulisan sarjana kedokteran gigi adalah latihan profesionalisme; pastikan setiap kalimat mencerminkan ketelitian seorang calon dokter gigi.
Penulisan ilmiah yang baik adalah fondasi bagi praktik kedokteran gigi yang berbasis bukti (Evidence-Based Dentistry).