Kesehatan reproduksi pria adalah komponen vital dalam keberhasilan pembuahan. Salah satu fokus utama dalam kajian ini adalah kualitas dan kuantitas penyakit sperma. Istilah ini mencakup berbagai kondisi yang mempengaruhi kemampuan sperma untuk berfungsi normal, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kesulitan bagi pasangan untuk hamil (infertilitas pria). Memahami kondisi ini sangat penting untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.
Gangguan pada kualitas sperma tidak selalu berarti tidak adanya sperma sama sekali. Terdapat beberapa klasifikasi utama yang sering diidentifikasi melalui analisis semen (spermaogram):
Ini adalah kondisi di mana jumlah total sperma yang dikeluarkan saat ejakulasi berada di bawah ambang batas normal yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Rendahnya jumlah sperma mengurangi probabilitas bahwa satu sperma akan berhasil mencapai sel telur.
Azoospermia adalah kondisi yang lebih parah, di mana sampel air mani sama sekali tidak mengandung sperma. Kondisi ini dapat dibagi lagi menjadi dua kategori: azoospermia obstruktif (saluran sperma tersumbat) dan non-obstruktif (produksi sperma bermasalah di testis).
Motilitas mengacu pada kemampuan sperma untuk bergerak maju secara efektif. Jika sperma memiliki motilitas yang buruk, meskipun jumlahnya banyak, mereka mungkin tidak dapat berenang melintasi saluran reproduksi wanita untuk membuahi sel telur. Banyak penyakit sperma melibatkan komponen asthenozoospermia.
Morfologi merujuk pada bentuk dan struktur sperma. Sperma harus memiliki kepala oval yang utuh dan ekor yang panjang dan lurus. Sperma yang bentuknya menyimpang (misalnya, kepala ganda, ekor bengkok, atau terlalu besar) seringkali tidak mampu menembus oosit, meskipun jumlah dan gerakannya tampak normal.
Penyebab penyakit sperma sangat beragam, mulai dari faktor gaya hidup hingga kondisi medis yang mendasarinya.
Langkah pertama dalam menangani penyakit sperma adalah melakukan analisis semen secara menyeluruh. Jika hasilnya menunjukkan adanya kelainan, dokter spesialis andrologi atau urologi akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk tes darah untuk hormon, USG skrotum, atau bahkan biopsi testis.
Penanganan sangat bergantung pada penyebabnya. Untuk varikokel, prosedur pembedahan (varikokellektomi) dapat dilakukan. Jika masalahnya adalah infeksi, antibiotik mungkin diperlukan. Untuk kasus ringan oligospermia atau asthenozoospermia, perubahan gaya hidup dan suplemen tertentu mungkin direkomendasikan. Jika masalahnya sangat parah (misalnya azoospermia non-obstruktif), prosedur bantuan reproduksi seperti In Vitro Fertilization (IVF) dengan Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) sering menjadi pilihan utama, di mana satu sperma sehat dimasukkan langsung ke dalam sel telur.
Meskipun diagnosis penyakit sperma bisa terasa menakutkan, kemajuan dalam kedokteran reproduksi modern menawarkan banyak harapan. Konsultasi dini dengan profesional kesehatan sangat disarankan bagi pasangan yang telah mencoba hamil tanpa hasil selama satu tahun atau lebih.