Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah surat ke-5 dalam Al-Qur'an. Surat ini kaya akan hukum-hukum, kisah-kisah para nabi, serta peringatan keras bagi mereka yang melanggar perjanjian dan menyimpang dari jalan kebenaran. Ayat 58 hingga 64 merupakan bagian penting yang mengandung teguran tegas dari Allah SWT terhadap tingkah laku umat terdahulu, khususnya mengenai shalat, perjanjian, dan kecenderungan hati mereka yang lemah.
Ayat-ayat ini secara kolektif berfungsi sebagai pengingat agar umat Islam senantiasa menjaga integritas ibadah, konsisten dalam ketaatan, dan menjauhi perilaku munafik serta pengkhianatan.
Ayat 58 dimulai dengan seruan kepada orang-orang yang beriman untuk memperhatikan tata cara pelaksanaan shalat, terutama ketika mendekati waktu shalat.
"Dan apabila kamu menyeru mereka untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya ejekan dan permainan. Hal itu karena mereka adalah kaum yang tidak berakal."
Ayat ini menyoroti sikap sebagian kaum Yahudi di Madinah yang, ketika diserukan untuk shalat, merespons dengan ejekan dan perlakuan main-main. Allah menekankan bahwa perilaku tersebut timbul karena mereka adalah kaum yang tidak mau menggunakan akal sehat mereka untuk memahami kebenaran dan pentingnya ibadah. Ini adalah kritik tajam terhadap mereka yang meremehkan ritual suci.
Selanjutnya, ayat 59 hingga 61 memberikan peringatan yang lebih spesifik mengenai perlakuan terhadap Ahlul Kitab dan bagaimana sifat buruk mereka mengantarkan pada kehancuran.
Al-Maidah Ayat 59: Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk bertanya kepada Ahlul Kitab: apakah mereka mempersalahkan kaum Muslimin hanya karena beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, padahal kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik (keluar dari ketaatan).
Al-Maidah Ayat 60: Ayat ini memaparkan konsekuensi dari perbuatan mereka yang menyimpang. Allah menyebutkan bahwa seburuk-buruk balasan bagi orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah adalah orang-orang yang sebagian dari mereka dijadikan kera dan babi karena durhaka serta mengikuti hawa nafsu yang buruk.
Al-Maidah Ayat 61: Menyambung ayat sebelumnya, Allah menegaskan bahwa ketika mereka datang kepada kaum Muslimin, mereka mengatakan, "Kami telah beriman." Padahal, mereka masuk dalam keadaan kufur dan keluar pun dalam keadaan kufur. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka sembunyikan. Ini adalah gambaran sempurna mengenai kemunafikan.
Ayat-ayat berikutnya (62-64) membahas tentang kesesatan orang-orang munafik di antara Ahlul Kitab dan penegasan tentang janji Allah.
Al-Maidah Ayat 62: Ayat ini menyatakan bahwa engkau (wahai Muhammad) akan melihat banyak dari mereka berlomba-lomba dalam perbuatan dosa, permusuhan, dan memakan harta yang haram. Sungguh buruk perbuatan yang mereka lakukan. Mereka berlomba-lomba dalam keburukan karena hati mereka telah tertutup oleh dosa.
Al-Maidah Ayat 63: Mengapa mereka terus berbuat dosa? Karena para rabi (ulama) dan pendeta mereka melarang mereka dari perkataan dosa dan memakan yang haram. Sungguh buruk apa yang mereka perbuat! Ayat ini menyindir para pemimpin agama yang gagal menasihati umatnya dari kemaksiatan.
Al-Maidah Ayat 64 (Penutup Rangkaian Peringatan): Ayat ini merupakan puncak peringatan. Mereka (Ahlul Kitab) berkata, "Tangan Allah terbelenggu," (yaitu kikir/pelit). Sebaliknya, tangan Allah-lah yang terentang (murah hati). Allah akan melimpahkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki. Namun, ayat ini juga menjadi peringatan keras bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad pasti akan menambah keingkaran dan kekafiran sebagian besar kaum tersebut. Ini menegaskan bahwa hidayah adalah pilihan, dan penolakan terhadap kebenaran akan memperparah kesesatan.
Keseluruhan ayat 58-64 berfungsi sebagai cermin bagi umat Islam agar tidak meniru perilaku mereka yang meremehkan ibadah, berbuat curang dalam perjanjian, dan menyembunyikan kemunafikan di balik ucapan iman.
Ilustrasi visualisasi jalan kebenaran versus jalan kesesatan yang disinggung dalam ayat-ayat tersebut.