Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel CD4 (sejenis sel T). Ketika sistem kekebalan tubuh sudah sangat rusak akibat infeksi HIV, kondisi ini berkembang menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Memahami penyebab HIV atau AIDS adalah langkah krusial dalam pencegahan dan penanganan penyakit ini.
Visualisasi sederhana jalur penularan HIV.
Apa Itu HIV dan Bagaimana Prosesnya?
HIV adalah virus yang secara spesifik menargetkan sel-sel sistem imun yang bertugas melawan penyakit. Ketika seseorang terinfeksi, virus ini mulai memperbanyak diri dan menghancurkan sel CD4. Pada awalnya, tubuh mungkin dapat mengimbangi kerusakan ini, namun seiring waktu, jumlah sel CD4 akan menurun drastis.
Tahap perkembangan dari infeksi HIV menjadi AIDS terjadi ketika jumlah sel CD4 turun di bawah 200 sel per milimeter kubik darah (normalnya di atas 500), atau ketika seseorang mengalami infeksi oportunistik tertentu yang menandakan kegagalan sistem kekebalan. AIDS adalah stadium akhir dari infeksi HIV yang tidak diobati.
Penyebab Utama Penularan HIV
Penyebab utama penularan HIV adalah kontak langsung dengan cairan tubuh tertentu yang mengandung virus dalam konsentrasi tinggi. Penting untuk dipahami bahwa HIV tidak menular melalui sentuhan biasa, gigitan nyamuk, berbagi peralatan makan, atau kontak kasual lainnya.
1. Hubungan Seksual Tanpa Pelindung
Ini adalah jalur penularan HIV yang paling umum di seluruh dunia. Penularan terjadi ketika cairan seksual (seperti air mani, cairan pra-ejakulasi, atau cairan vagina) dari orang yang terinfeksi masuk ke dalam tubuh pasangan melalui luka kecil, selaput lendir (anus, vagina, penis, atau mulut), atau melalui kontak langsung saat berhubungan seks (anal, vaginal, atau oral).
2. Berbagi Jarum Suntik atau Alat Suntik
Penggunaan jarum suntik, alat suntik, atau peralatan lain yang terkontaminasi darah secara bergantian, sering terjadi di kalangan pengguna narkotika suntik (penasun), merupakan cara penularan yang sangat efisien. Darah yang tersisa pada jarum dapat membawa virus langsung ke aliran darah orang berikutnya.
3. Transmisi dari Ibu ke Anak (PMTCT)
Seorang ibu yang hidup dengan HIV dapat menularkan virus kepada anaknya melalui tiga cara utama:
- Selama kehamilan (melalui plasenta).
- Saat proses persalinan (kontak dengan darah dan cairan vagina).
- Melalui pemberian ASI (Air Susu Ibu).
4. Transfusi Darah atau Produk Darah yang Terkontaminasi
Meskipun sangat jarang terjadi di negara dengan sistem pengujian darah yang ketat, penularan masih bisa terjadi jika seseorang menerima transfusi darah, produk darah, atau organ yang terinfeksi HIV. Saat ini, semua bank darah diwajibkan untuk menguji semua donor secara menyeluruh.
Faktor Risiko yang Meningkatkan Peluang Penularan
Beberapa perilaku dan kondisi meningkatkan risiko paparan terhadap virus, yang pada akhirnya menjadi penyebab HIV pada individu yang rentan:
- Melakukan hubungan seks tanpa kondom, terutama dengan banyak pasangan.
- Memiliki infeksi menular seksual (IMS) lain, karena luka akibat IMS mempermudah masuknya virus HIV.
- Paparan pekerjaan (tenaga medis yang tertusuk jarum bekas pasien positif HIV).
- Mendapatkan tindikan atau tato menggunakan peralatan yang tidak steril.
Perbedaan Antara HIV dan AIDS
Penting untuk membedakan kedua istilah ini:
- HIV (Human Immunodeficiency Virus): Adalah virus itu sendiri. Seseorang yang hidup dengan HIV belum tentu mengidap AIDS.
- AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome): Adalah stadium akhir infeksi HIV yang ditandai dengan rusaknya parah sistem kekebalan tubuh.
Dengan pengobatan ARV yang tersedia saat ini, sebagian besar orang yang hidup dengan HIV dapat mempertahankan sistem kekebalan tubuh yang sehat dan hidup bertahun-tahun tanpa pernah berkembang menjadi AIDS. Fokus utama pencegahan dan penanganan adalah menghentikan rantai penularan dan memastikan setiap orang yang terinfeksi mendapatkan akses pengobatan segera.