Sperma keluar merupakan bagian vital dari fungsi reproduksi pria. Proses keluarnya sperma, yang secara medis dikenal sebagai ejakulasi, adalah hasil dari serangkaian kontraksi otot yang kompleks. Memahami apa yang menyebabkan sperma keluar—baik dalam konteks aktivitas seksual, mimpi basah, maupun kondisi medis tertentu—sangat penting untuk kesehatan reproduksi secara umum.
Secara fundamental, keluarnya sperma terjadi melalui dua mekanisme utama: **ejakulasi saat aktivitas seksual** dan **emisi nokturnal atau mimpi basah**.
Ejakulasi adalah peristiwa refleks yang dikendalikan oleh sistem saraf. Ini biasanya didahului oleh fase gairah seksual yang mengarah pada orgasme. Ada dua fase utama dalam proses ejakulasi:
Pada tahap ini, kontraksi otot halus menyebabkan sperma yang tersimpan di epididimis dan vesikula seminalis bergerak menuju uretra prostat. Cairan dari kelenjar prostat dan kantung mani (vesikula seminalis) juga bercampur di sini untuk membentuk air mani (semen). Sensasi "titik tanpa harapan" sering dirasakan sesaat sebelum emisi sempurna.
Setelah cairan terkumpul di pangkal uretra, kontraksi ritmis otot dasar panggul (terutama otot bulbokavernosus) mendorong air mani keluar melalui penis. Kecepatan dan volume cairan yang keluar dipengaruhi oleh faktor fisiologis dan psikologis.
Salah satu penyebab umum keluarnya sperma yang tidak melibatkan rangsangan seksual sadar adalah mimpi basah. Ini sering terjadi selama tidur, terutama pada masa pubertas dan remaja, meskipun bisa terjadi pada pria dewasa.
Penyebab mimpi basah melibatkan:
Meskipun keluarnya sperma adalah proses normal, beberapa kondisi medis dapat memengaruhinya, baik dari segi volume, frekuensi, atau cara keluarnya.
Ini terjadi ketika sperma keluar terlalu cepat, seringkali sebelum atau segera setelah penetrasi, yang menyebabkan ketidakpuasan pada pria atau pasangan. Ini adalah masalah fungsi seksual yang umum dan biasanya terkait dengan faktor psikologis atau perubahan kadar neurotransmitter.
Kebalikan dari ejakulasi dini, kondisi ini membuat pria memerlukan stimulasi yang sangat intens dan berkepanjangan untuk mencapai ejakulasi. Penyebabnya bisa terkait dengan obat-obatan tertentu (terutama antidepresan SSRI), kerusakan saraf, atau masalah hormonal.
Dalam kondisi ini, sperma tidak keluar melalui penis melainkan mengalir mundur ke kandung kemih saat orgasme. Hal ini sering terjadi setelah operasi prostat, akibat diabetes yang merusak saraf, atau sebagai efek samping obat-obatan tertentu. Pria dengan kondisi ini mungkin mengalami orgasme kering.
Beberapa pria mungkin mengalami orgasme namun tidak diikuti dengan keluarnya cairan (anejakulasi). Ini bisa disebabkan oleh obstruksi (penyumbatan) saluran ejakulasi atau masalah neurologis parah.
Penting untuk dicatat bahwa frekuensi dan kekuatan keluarnya sperma sangat dipengaruhi oleh faktor gaya hidup:
Secara keseluruhan, keluarnya sperma adalah proses fisiologis yang diatur ketat. Selama proses ini terasa normal dan tidak disertai nyeri atau perubahan drastis yang mengkhawatirkan, biasanya tidak ada alasan untuk khawatir. Namun, jika ada perubahan signifikan dalam frekuensi, volume, atau jika Anda mengalami rasa sakit, konsultasi dengan ahli urologi sangat dianjurkan untuk mengevaluasi kemungkinan adanya kondisi medis yang mendasarinya.