Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang menceritakan perjalanan malam Nabi Muhammad SAW. Di tengah kisah-kisah spiritual dan mukjizat, terdapat ayat-ayat yang memberikan pedoman hidup yang kokoh bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan adalah Surat Al-Isra Ayat 84.
Ayat ini merupakan pesan langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW mengenai bagaimana seharusnya beliau menyikapi interaksi dengan umat manusia, terutama mereka yang memiliki kecenderungan berbeda.
Katakanlah: "Setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing (kecenderungannya); maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya."
Inti dari ayat 84 Al-Isra terletak pada frasa 'ala shākilatih' (عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ), yang diterjemahkan sebagai "atas kecenderungannya" atau "pada caranya sendiri". Kata syakilah memiliki makna dasar terkait bentuk, sifat, atau kebiasaan yang melekat pada diri seseorang. Dalam konteks ayat ini, maknanya mencakup:
Ini mengajarkan sebuah kebijaksanaan universal: kita tidak bisa mengontrol hati dan pikiran orang lain. Tugas kita adalah menyampaikan kebenaran dengan cara yang terbaik, namun hasil akhir dan petunjuk sejati adalah domain mutlak Allah SWT.
Bagian kedua ayat, "Fā rabbukum a'lamu biman huwa ahdā sabīlā" (فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا), berfungsi sebagai penutup sekaligus penegasan otoritas Ilahi. Setelah mengakui bahwa setiap orang beramal sesuai kecenderungannya, Allah mengingatkan bahwa penilaian akhir dan penentuan siapa yang benar-benar berada di jalan yang lurus (Al-Huda) hanya dimiliki-Nya.
Dalam konteks dakwah, ini sangat relevan. Ketika berhadapan dengan penolakan, skeptisisme, atau bahkan permusuhan, seorang muslim diingatkan untuk tidak berkecil hati atau merasa bertanggung jawab penuh atas hidayah orang lain. Rasa frustrasi seringkali muncul ketika harapan kita terhadap reaksi orang lain tidak terpenuhi. Ayat ini membebaskan kita dari beban tersebut.
Makna Surat Al-Isra ayat 84 memiliki relevansi yang sangat kuat di era informasi dan polarisasi saat ini. Ayat ini mengajarkan beberapa pelajaran penting bagi kehidupan sosial dan spiritual:
Memahami bahwa setiap orang memiliki "syakilah" (kecenderungan) yang berbeda menuntut kesabaran tingkat tinggi. Kita mungkin bertemu dengan orang yang keras kepala atau orang yang mudah terpengaruh. Alih-alih menghakimi, kita diingatkan untuk fokus pada konsistensi perbuatan kita sendiri di hadapan kebenaran.
Islam adalah agama yang menekankan kebebasan memilih (ikhtiar). Jika Allah saja memberikan ruang bagi manusia untuk memilih jalan mereka berdasarkan sifat dasar mereka, maka manusia sebagai pengikut agama seharusnya juga menghormati pilihan tersebut, selama tidak melanggar batas-batas syariat yang jelas.
Ayat ini mendorong introspeksi yang mendalam. Daripada sibuk menganalisis mengapa orang lain belum menerima kebenaran, fokus utama harus dialihkan kepada diri sendiri: "Apakah aku sudah beramal sesuai dengan kebenaran yang aku yakini?" Penekanan pada "jalan yang paling benar" adalah panggilan untuk memastikan kualitas amalan kita sendiri.
Pada akhirnya, ayat ini memberikan ketenangan. Jika ada pihak yang tampak berhasil dalam kesesatan, atau pihak yang tulus namun tertahan dalam kebenaran, kita harus meyakini bahwa perhitungan Allah jauh melampaui persepsi dangkal manusia. Kekuasaan dan pengetahuan-Nya memastikan bahwa jalan yang lurus akan dikenali dan diberi balasan yang setimpal di akhirat.
Kesimpulannya, Surat Al-Isra ayat 84 adalah benteng spiritual yang mengingatkan kita tentang prinsip keadilan dan kebebasan berkehendak, sembari menempatkan otoritas tertinggi atas petunjuk dan balasan di tangan Sang Pencipta Semesta.