Ilustrasi visualisasi kondisi saluran reproduksi.
Keluarnya sperma yang disertai darah, atau yang secara medis dikenal sebagai hematospermia, adalah kondisi yang sering kali menimbulkan kekhawatiran signifikan bagi pria. Meskipun penampakannya mengkhawatirkan, penting untuk diketahui bahwa dalam banyak kasus, hematospermia bersifat sementara dan tidak selalu menandakan adanya penyakit serius.
Kondisi ini terjadi ketika ada sedikit darah yang bercampur dengan cairan semen saat ejakulasi. Warna darah bisa bervariasi, mulai dari bercak merah muda hingga merah gelap. Memahami akar penyebabnya adalah langkah pertama menuju penanganan yang tepat.
Mayoritas kasus hematospermia bersifat jinak (non-kanker) dan sering kali terjadi tanpa sebab yang jelas (idiopatik). Namun, ada beberapa faktor dan kondisi yang dapat memicu keluarnya darah bersama sperma:
Aktivitas seksual yang intens atau masturbasi yang terlalu kasar dapat menyebabkan iritasi atau luka kecil pada saluran epididimis, vas deferens, atau vesikula seminalis. Peradangan ringan akibat tekanan atau gesekan ini bisa menyebabkan pembuluh darah kecil pecah, sehingga darah ikut tercampur.
Infeksi pada saluran reproduksi adalah penyebab umum lainnya. Kondisi seperti prostatitis (radang prostat), epididimitis (radang epididimis), atau uretritis (radang uretra) dapat menyebabkan pembengkakan dan peradangan pada jaringan, yang rentan mengeluarkan darah saat terjadi ejakulasi.
Vesikula seminalis adalah kelenjar yang memproduksi sebagian besar cairan semen. Batu pada vesikula seminalis atau kista di area tersebut bisa mengiritasi dinding saluran dan menyebabkan perdarahan.
Jika seseorang baru menjalani prosedur medis di area prostat atau testis, seperti biopsi prostat baru-baru ini, adanya sedikit darah dalam semen adalah efek samping yang sangat umum dan biasanya akan hilang dalam beberapa hari atau minggu.
Meskipun jarang terjadi, hematospermia terkadang bisa menjadi gejala dari kondisi medis yang lebih serius, yang memerlukan evaluasi dan penanganan medis segera:
Jika Anda mengalami hematospermia, tindakan pertama yang terbaik adalah tetap tenang. Jika ini pertama kalinya terjadi, dan Anda berusia di bawah 40 tahun tanpa riwayat medis yang mengkhawatirkan, kondisi ini sering kali hilang dengan sendirinya dalam waktu satu hingga dua minggu. Namun, Anda harus segera mencari bantuan medis jika:
Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, menanyakan riwayat seksual dan medis, dan mungkin menyarankan tes urine, tes darah, atau pencitraan seperti USG transrektal untuk melihat kondisi prostat dan vesikula seminalis secara detail.