Ilustrasi proses biologis terkait ejakulasi.
Fenomena di mana sperma terlihat keluar kembali setelah ejakulasi, atau lebih tepatnya, cairan yang menyerupai sperma muncul setelah fase klimaks utama, adalah hal yang cukup umum dialami oleh banyak pria. Meskipun sering menimbulkan kekhawatiran, dalam banyak kasus, hal ini merupakan bagian normal dari fisiologi pria. Namun, penting untuk memahami berbagai penyebab sperma keluar lagi untuk membedakan antara proses normal dan kondisi medis yang memerlukan perhatian.
Sangat penting untuk mengidentifikasi cairan apa yang keluar. Setelah ejakulasi, cairan yang keluar bisa berupa:
Jika yang keluar adalah cairan yang identik dengan semen (viskositas dan warna), penyebab utamanya seringkali berkaitan dengan mekanisme kontraksi otot selama dan sesudah orgasme. Ini adalah bagian dari penyebab sperma keluar lagi yang paling sering terjadi:
Ejakulasi adalah proses kompleks yang melibatkan serangkaian kontraksi otot ritmis di sekitar uretra dan dasar panggul. Kontraksi ini mendorong semen keluar. Jika kontraksi ini berhenti mendadak atau tidak cukup kuat untuk mendorong seluruh volume semen keluar dalam satu ‘gelombang’, sisa semen dapat tertinggal di dalam uretra dan keluar perlahan setelah beberapa saat.
Pria yang memproduksi volume semen yang sangat banyak dalam satu kali ejakulasi lebih rentan mengalami ‘kebocoran’ sisa semen. Volume yang besar meningkatkan kemungkinan ada residu yang terjebak secara mekanis di lekukan uretra.
Gravitasi memainkan peran. Jika seorang pria segera berganti posisi (misalnya, dari berbaring menjadi berdiri) atau melakukan aktivitas fisik setelah ejakulasi, perubahan tekanan dan posisi dapat membantu mendorong sisa cairan yang tertahan keluar.
Beberapa pria melaporkan adanya ‘ejakulasi kedua’ atau keluarnya cairan setelah stimulasi penis dilanjutkan beberapa saat setelah orgasme pertama. Hal ini bisa disebabkan oleh akumulasi cairan pra-ejakulat baru atau sisa semen yang bergerak karena peningkatan aliran darah dan kepekaan lokal.
Meskipun sebagian besar kasus adalah normal, ada beberapa kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi cara cairan dikeluarkan, sehingga penting untuk mencari evaluasi medis jika Anda mengalami gejala lain:
Kelemahan Otot Dasar Panggul (Pelvic Floor)
Otot dasar panggul bertanggung jawab untuk mengontrol aliran urin dan semen. Jika otot-otot ini melemah (sering terjadi seiring bertambahnya usia atau setelah cedera/operasi), kemampuan untuk mengosongkan uretra sepenuhnya bisa menurun. Ini bisa menjadi salah satu penyebab sperma keluar lagi yang memerlukan latihan penguatan (seperti latihan Kegel).
Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Prostatitis
Peradangan pada prostat (prostatitis) atau infeksi dapat menyebabkan pembengkakan dan iritasi pada saluran uretra. Hal ini dapat mengganggu mekanisme pengeluaran semen yang normal, menyebabkan cairan terasa keluar tidak tuntas atau keluar kembali dalam bentuk yang berbeda.
Refluks Semen (Retrograde Ejaculation)
Meskipun ini adalah kondisi yang lebih serius dan biasanya ditandai dengan kurangnya cairan yang keluar saat ejakulasi puncak, beberapa pria salah mengartikan keluarnya cairan yang sedikit setelahnya sebagai refluks. Pada refluks sejati, semen masuk kembali ke kandung kemih, dan urin bisa menjadi keruh setelah buang air kecil berikutnya.
Pada umumnya, keluarnya sedikit cairan setelah ejakulasi utama adalah fenomena mekanis yang disebabkan oleh sisa semen yang belum sempat dikeluarkan sepenuhnya. Jika Anda tidak mengalami nyeri, terbakar saat buang air kecil, atau perubahan warna urin yang signifikan, kemungkinan besar ini bukan indikasi masalah serius. Namun, jika frekuensi keluarnya cairan ini sangat mengganggu, atau disertai gejala abnormal lainnya, berkonsultasi dengan dokter spesialis urologi adalah langkah terbaik untuk memastikan kesehatan sistem reproduksi Anda.
Penting: Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti nasihat medis profesional. Selalu konsultasikan masalah kesehatan Anda dengan dokter.