Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil (Anak-anak Israel), adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang diturunkan di Mekkah. Ayat 1-5 dari surat ini memiliki makna mendalam, dimulai dengan kisah luar biasa tentang perjalanan malam Nabi Muhammad SAW (Isra') dan beberapa penegasan mengenai keagungan Allah SWT, serta peringatan awal terhadap Bani Israil. Ayat-ayat ini sering dibaca sebagai pengingat akan kekuasaan Allah yang Maha Besar dan tanggung jawab besar yang diemban oleh umat manusia. Memahami terjemahan dan penjelasannya penting untuk mengambil pelajaran dari setiap kalimat yang tersemat di dalamnya.
Ayat pembuka ini adalah inti dari peristiwa Isra' Mi'raj, perjalanan malam Nabi Muhammad SAW. Kata "Subhan" menunjukkan pujian dan pengakuan atas kesempurnaan Allah. Perjalanan ini dimulai dari Masjidilharam (Mekkah) menuju Masjidil Aqsa (Yerusalem), sebuah perjalanan yang mustahil dilakukan dalam waktu semalam tanpa pertolongan ilahi. Tujuan utamanya adalah menunjukkan sebagian kebesaran dan mukjizat Allah kepada Nabi.
Ayat ini beralih membahas tentang anugerah besar yang diberikan kepada Nabi Musa berupa Kitab Taurat, sebagai petunjuk bagi Bani Israil. Peringatan tegas disampaikan: janganlah mereka menjadikan selain Allah sebagai pelindung atau penolong utama. Ini adalah pelajaran mendasar bahwa ketergantungan sejati hanya kepada Sang Pencipta.
Ayat ini menjelaskan kelanjutan dari peringatan tersebut, mengaitkannya dengan keturunan Nabi Nuh AS, orang-orang yang diselamatkan dari banjir besar karena keimanan mereka. Nabi Nuh digambarkan sebagai hamba yang sangat bersyukur. Kesyukuran adalah kunci keberkahan dan keselamatan, sebuah sifat yang harus diteladani oleh Bani Israil maupun umat Nabi Muhammad SAW.
Ayat ini merupakan peringatan keras yang dituliskan dalam Taurat mengenai nasib Bani Israil. Allah memberitahu bahwa mereka akan melakukan kerusakan (kezaliman dan pembunuhan) di bumi (khususnya di sekitar Baitul Maqdis) sebanyak dua kali, dan pada akhirnya mereka akan congkak dan sombong secara berlebihan. Hal ini menjadi cermin sejarah bahwa pelanggaran janji dan kesombongan akan berujung pada kehancuran.
Ayat kelima menjelaskan konsekuensi dari kerusakan pertama yang mereka lakukan. Allah mengirimkan pasukan yang sangat kuat (yang diinterpretasikan oleh banyak mufasir sebagai bangsa Babilonia) untuk menghukum mereka. Pasukan ini memasuki pemukiman mereka, dan hukuman tersebut adalah janji Allah yang pasti akan terjadi (wa'dan maf'ula). Ayat ini menekankan bahwa janji dan ancaman Allah pasti akan terwujud sebagai konsekuensi logis dari perbuatan manusia.
Rangkaian ayat ini memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, pengukuhan atas kemahakuasaan Allah yang mampu melakukan perjalanan luar biasa dalam semalam (Ayat 1). Kedua, penekanan pada pentingnya tauhid dan menolak segala bentuk perindungan selain Allah (Ayat 2). Ketiga, pujian bagi hamba yang bersyukur (Nuh AS) (Ayat 3). Terakhir, peringatan historis bahwa kesombongan dan perbuatan kerusakan akan selalu menuai azab yang telah ditetapkan Allah (Ayat 4 dan 5). Bagi umat Islam, ayat-ayat ini berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah dan bertindak adil di muka bumi, agar tidak mengalami nasib yang sama seperti yang dialami oleh umat terdahulu.