Pesan Agung Surah Al-Ma'idah Ayat 35

Ilustrasi Timbangan Keadilan dan Cahaya Iman Gambar SVG sederhana berupa timbangan dengan satu sisi berisi buku (Al-Qur'an) dan sisi lain berisi hati yang bersinar.

Surah Al-Ma'idah, surat kelima dalam Al-Qur'an, memuat banyak sekali landasan hukum, etika, dan spiritualitas Islam. Salah satu ayat yang paling fundamental dalam penekanan aspek spiritual dan pertanggungjawaban adalah **Surah Al-Ma'idah ayat 35**. Ayat ini adalah seruan langsung dari Allah SWT kepada seluruh orang yang beriman mengenai pentingnya memegang teguh prinsip keimanan dan mengiringinya dengan amal saleh.

Ayat Inti: Seruan Iman dan Amal Saleh

Ayat 35 ini sering kali dikutip sebagai pilar utama dalam akidah Ahlussunnah wal Jama'ah mengenai hubungan antara iman (keyakinan) dan amal (perbuatan). Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

(Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekati-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, semoga kamu beruntung.)

Makna Mendalam Tiga Perintah Utama

Ayat ini mengandung tiga perintah besar yang saling terkait erat. Kegagalan dalam salah satunya akan memengaruhi kesuksesan di akhirat:

1. Perintah Taqwa (Bertakwalah kepada Allah)

Taqwa adalah inti dari segala ajaran agama. Ini bukan sekadar rasa takut, melainkan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi, sehingga mendorong seorang mukmin untuk selalu patuh pada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Taqwa adalah fondasi. Tanpa dasar takwa yang kokoh, perintah selanjutnya akan sulit dilaksanakan dengan tulus.

2. Mencari Wasilah (Jalan Pendekat)

Perintah kedua adalah mencari 'wasilah' atau jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam konteks tafsir klasik, wasilah mencakup berbagai bentuk ketaatan, seperti melaksanakan ibadah wajib (shalat, puasa, zakat), menaati Rasulullah SAW, dan melakukan amal kebajikan lainnya. Wasilah adalah jembatan konkret yang menghubungkan keinginan hati untuk dekat dengan Allah melalui perbuatan nyata.

Penting dicatat, mencari wasilah harus dilakukan sesuai tuntunan syariat. Hal ini membantah segala praktik yang mengklaim mendekatkan diri kepada Tuhan melalui perantara yang tidak diridai-Nya. Wasilah yang sejati adalah amal saleh yang dilandasi ketulusan (ikhlas) dan mengikuti petunjuk Nabi Muhammad SAW.

3. Jihad di Jalan Allah

Perintah ketiga adalah jihad. Kata 'jihad' sering disalahpahami hanya sebagai peperangan fisik. Padahal, jihad dalam arti luas adalah perjuangan sungguh-sungguh. Bentuk jihad yang paling utama adalah jihadun nafs (melawan hawa nafsu) untuk senantiasa berada di jalan yang benar, menegakkan kebenaran, dan menuntut ilmu. Jihad juga mencakup perjuangan ekonomi untuk menafkahi keluarga secara halal dan berjihad dengan lisan (dakwah) untuk menyebarkan kebaikan.

Kesuksesan yang Dijanjikan: Al-Falah

Ayat ini diakhiri dengan janji ilahi: "L'allaakum tuflihūn" (Semoga kamu beruntung). Kata 'falah' (beruntung) di sini merujuk pada keberhasilan tertinggi, yaitu mendapatkan keridhaan Allah, dimasukkan ke dalam surga-Nya, dan terhindar dari siksa neraka.

Keberuntungan ini tidak datang secara cuma-cuma. Ia adalah hasil langsung dari implementasi tiga pilar utama yang disebutkan sebelumnya: Taqwa, Pencarian Wasilah yang benar, dan Jihad yang berkelanjutan.

Relevansi Mobile Web dan Kehidupan Modern

Di era digital yang serba cepat ini, tantangan untuk mempertahankan takwa semakin besar. Godaan maksiat dan hal-hal yang melalaikan datang melalui perangkat yang kita genggam. Surah Al-Ma'idah ayat 35 menjadi pengingat konstan bahwa amal saleh harus selalu diutamakan di atas kesibukan duniawi.

Mencari wasilah kini bisa berarti mendedikasikan waktu untuk kajian online yang sahih, menjauhi fitnah internet, atau menggunakan kemampuan teknologi untuk berdakwah. Jihad di jalan Allah di zaman ini sering kali berarti perjuangan melawan polarisasi dan informasi yang menyesatkan dengan menyebarkan kebenaran yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah.

Oleh karena itu, ayat ini menegaskan bahwa iman tanpa amal adalah seperti pohon tanpa buah. Kemenangan sejati (falah) hanya bisa diraih oleh orang-orang yang secara aktif, sadar, dan konsisten berupaya meningkatkan kualitas spiritual dan amaliah mereka setiap hari. Ini adalah panggilan untuk introspeksi diri secara berkala: Apakah wasilah yang kita pilih benar-benar mendekatkan kita kepada-Nya?

🏠 Homepage