Surat Al-Hijr, ayat keenam, adalah salah satu penegasan kuat dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat ini diletakkan dalam konteks dialog antara kaum musyrikin Mekah yang meragukan kenabian beliau dan menuntut mukjizat yang aneh-aneh, seperti yang pernah diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya. Ayat ini secara langsung menjawab keraguan tersebut dengan menyatakan sebuah kepastian sejarah dan ilahiah: bahwa tradisi pengutusan rasul bukanlah hal baru.
Ayat ini menegaskan bahwa pengalaman Nabi Muhammad SAW bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri atau tak terduga. Allah telah menetapkan pola pengutusan para Nabi dan Rasul sebagai bagian dari rencana-Nya yang abadi untuk membimbing umat manusia. Frasa "sungguh, telah Kami utus sebelum kamu" membawa bobot penekanan yang menunjukkan konsistensi risalah ilahi dari masa ke masa.
Ketika kaum Quraisy menolak risalah Nabi Muhammad SAW, seringkali mereka mendasarkan penolakan tersebut pada argumentasi bahwa beliau hanyalah seorang manusia biasa, bukan seorang malaikat, atau bahwa ajaran yang dibawanya adalah karangan semata. Mereka membandingkan posisi beliau dengan para nabi pendahulu yang membawa tantangan fisik (seperti terbelahnya lautan atau turunnya hidangan dari langit).
QS Al-Hijr ayat 6, bersama ayat-ayat selanjutnya dalam surat yang sama (seperti ayat 7-8 yang membahas penolakan kaum kafir terhadap kedatangan Nabi), berfungsi sebagai penghibur dan penguat bagi Nabi. Ini adalah pengingat bahwa kesulitan yang dihadapi adalah bagian inheren dari tugas kenabian. Setiap utusan Allah yang datang membawa kebenaran pasti menghadapi penolakan dari kaum yang angkuh atau yang terlalu terikat pada kebiasaan lama.
Frasa "fi al-firq al-awwalin" (di antara golongan yang terdahulu) sangat penting. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan manusia tanpa petunjuk. Sejarah kerasulan adalah narasi yang terstruktur: ada satu pesan inti (tauhid) yang disampaikan melalui berbagai pribadi di berbagai periode waktu dan geografi.
Oleh karena itu, QS Al-Hijr ayat 6 berfungsi sebagai fondasi historis bagi klaim kenabian. Ini adalah penegasan bahwa kenabian Muhammad SAW adalah klimaks dari sebuah proses panjang pewahyuan yang telah dimulai sejak awal sejarah peradaban manusia yang beriman. Memahami ayat ini memberikan perspektif bahwa dakwah selalu membutuhkan ketabahan dalam menghadapi penolakan, karena jalan kebenaran seringkali tidak mulus, meskipun didukung oleh sejarah ilahi yang panjang.