Ilustrasi simbolis tentang cahaya dan petunjuk.
Ayat ke-16 dari Surat Al-Maidah ini merupakan seruan tegas dari Allah SWT yang ditujukan kepada Ahli Kitab—yaitu Yahudi dan Nasrani—pada masa kenabian Muhammad SAW. Ayat ini menyoroti kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai penjelas kebenaran.
Inti dari bagian pertama ayat ini adalah penegasan bahwa Rasul terakhir, Nabi Muhammad SAW, telah diutus. Tugas beliau sangat spesifik: menjelaskan kepada Ahli Kitab banyak hal dari Taurat dan Injil yang selama ini mereka sembunyikan atau selewengkan dari pemahaman umat mereka. Islam datang bukan untuk menghapus kitab-kitab terdahulu secara keseluruhan, melainkan untuk menguatkan kebenaran yang ada di dalamnya sekaligus meluruskan penyimpangan.
Frasa "dan banyak (pula) yang dibiarkannya" menunjukkan kebijaksanaan ilahi. Ada beberapa hal yang tidak perlu ditekankan atau diperpanjang pembahasannya karena umat Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk mengikuti syariat yang baru, atau hal tersebut memang sudah tidak relevan lagi bagi konteks risalah universal yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
Bagian kedua ayat ini memberikan penekanan kuat dengan metafora yang indah: "Qad ja’akum minallahi nuurun wa kitaabum mubiin" (Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan).
Nuur (Cahaya) di sini sering diinterpretasikan sebagai pribadi Nabi Muhammad SAW sendiri, yang kehadirannya merupakan pancaran petunjuk, kebaikan, dan kebenaran yang menerangi kegelapan kesesatan. Kehadiran beliau adalah cahaya penuntun.
Kitaabum Mubiin (Kitab yang Menerangkan) merujuk pada Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah wahyu yang jernih, menjelaskan akidah, hukum, kisah, dan perbedaan antara yang hak dan yang batil. Kehadiran Al-Qur'an ini menghilangkan keraguan dan kegelapan yang selama ini menyelimuti pemahaman umat beragama sebelumnya.
Meskipun ayat ini ditujukan kepada Ahli Kitab di masa itu, pesan universalnya tetap berlaku bagi seluruh umat Islam. Ayat Surat Al-Maidah ayat 16 mengingatkan kita akan tanggung jawab untuk menjaga kemurnian Al-Qur'an dan meneladani ajaran Nabi Muhammad SAW sebagai dua sumber cahaya utama dalam kehidupan kita. Kita harus waspada terhadap penafsiran yang menyimpang dan selalu kembali kepada Al-Qur'an sebagai pembeda kebenaran.
Ayat ini merupakan penegasan bahwa risalah Islam adalah kesempurnaan dari petunjuk-petunjuk ilahi sebelumnya, hadir sebagai penutup dan penyempurna, membawa kejelasan mutlak yang tidak dapat disembunyikan lagi oleh siapapun. Kejelasan ini adalah rahmat besar yang wajib disyukuri dan diamalkan.