Memahami Larangan dalam QS Al-Isra Ayat 110: Tata Cara Berdoa yang Benar

Ilustrasi Doa Dalam Keheningan
"Dan janganlah kamu mengeraskan shalatmu dan janganlah pula merendahkannya; dan carilah jalan tengah di antara keduanya." (QS. Al-Isra: 110)

Surat Al-Isra ayat ke-110 adalah salah satu petunjuk penting dari Allah SWT mengenai etika dan tata cara seorang Muslim dalam beribadah, khususnya dalam aspek doa dan shalat. Ayat ini sering kali dikutip oleh para ulama sebagai landasan hukum yang melarang umat Islam untuk berdoa atau berzikir dengan suara yang terlalu keras, namun sekaligus juga melarang untuk terlalu pelan hingga tidak terdengar, bahkan oleh diri sendiri.

Konteks Historis dan Kebahasaan Ayat

Ayat ini turun sebagai respons terhadap kebiasaan beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW di masa awal Islam. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa sebagian dari mereka cenderung mengeraskan bacaan Al-Qur'an atau doa mereka saat shalat di masjid. Tindakan ini, meskipun didasari oleh semangat keimanan, berpotensi mengganggu kekhusyukan orang lain yang sedang shalat atau beribadah di sekitar mereka.

Secara linguistik, kata "laa taj'al yadaka maghlulatan" (janganlah kamu menjadikan tanganmu terbelenggu) dalam bagian sebelumnya mengisyaratkan sifat kikir atau menahan diri dari berinfak. Namun, pada ayat 110, fokusnya beralih ke cara seorang hamba berkomunikasi dengan Penciptanya. Kata "lahra" (mengeraskan) dan "tashawwirah" (merendahkan/memperlambat) menjadi kunci interpretasi. Ayat ini mengajarkan prinsip keseimbangan (wasatiyyah) yang merupakan inti ajaran Islam.

Pelajaran Utama: Prinsip Wasatiyyah dalam Doa

Prinsip utama yang ditawarkan oleh QS Al-Isra ayat 110 adalah moderasi atau jalan tengah. Dalam konteks doa, ini diterjemahkan menjadi:

  1. Larangan Berlebihan dalam Kekerasan Suara: Mengeraskan doa hingga melampaui batas kewajaran dapat dikategorikan sebagai bentuk kesombongan atau ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar. Doa seharusnya bersifat murni interaksi pribadi, bukan ajang pamer suara. Jika dilakukan di tempat umum seperti masjid, suara yang terlalu keras dapat mengganggu konsentrasi jamaah lain yang sedang fokus beribadah atau merenung.
  2. Larangan Berdoa Terlalu Lemah: Sebaliknya, merendahkan suara hingga tidak terdengar atau tidak dapat dirasakan oleh diri sendiri juga tidak dianjurkan. Doa yang tidak terdengar oleh diri sendiri menunjukkan kurangnya kesungguhan, penghayatan, dan konsentrasi penuh kepada Allah SWT. Doa harus diucapkan dengan khusyuk, di mana hati dan lisan selaras.
  3. Jalan Tengah: Suara yang Dapat Didengar Sendiri: Jalan terbaik adalah mengucapkan doa dengan suara yang cukup jelas sehingga diri sendiri dapat mendengarnya (agar dapat fokus pada arti dan makna yang diucapkan), tetapi tidak sampai mengganggu orang lain di sekitarnya. Ini menunjukkan adab (etika) yang tinggi dalam berinteraksi dengan Allah di tengah komunitas.

Pelajaran ini relevan bukan hanya dalam shalat wajib, tetapi juga dalam doa-doa sunnah, zikir, dan munajat secara umum. Islam mengajarkan bahwa ibadah harus dilakukan dengan penuh kesadaran (ihsan), di mana seolah-olah kita melihat Allah, dan jika kita tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah melihat kita. Kesungguhan hati jauh lebih penting daripada volume suara.

Implementasi dalam Kehidupan Modern

Di era modern, di mana kita sering kali dikelilingi oleh kebisingan, ayat ini kembali relevan dalam mengajarkan bagaimana menjaga kekhusyukan pribadi tanpa menjadi sumber gangguan bagi orang lain. Ketika berdoa di tempat umum, seperti di kendaraan, kantor, atau saat meditasi bersama, prinsip Al-Isra 110 memastikan bahwa hubungan spiritual kita tetap terjaga tanpa mengabaikan hak-hak sosial.

Intinya, QS Al-Isra ayat 110 adalah panduan etika komunikasi spiritual yang menekankan pentingnya ketenangan batin, rasa hormat terhadap lingkungan ibadah, dan kesungguhan dalam memanggil Allah SWT. Keseimbangan suara adalah cerminan dari keseimbangan jiwa seorang Mukmin.

🏠 Homepage