Menggali Makna QS Al-Isra Ayat 34

Panduan Menuju Keadilan dan Tanggung Jawab

Simbol Keseimbangan dan Janji Visualisasi timbangan yang seimbang di atas landasan kokoh, melambangkan keadilan. Amanah Janji

Keadilan adalah pilar utama dalam ajaran Islam. Di antara ayat-ayat Al-Qur'an yang menekankan pentingnya etika dan tanggung jawab moral, Surah Al-Isra (atau Al-Isra' wal Mi'raj) ayat 34 memegang posisi sentral. Ayat ini sering dikutip sebagai landasan filosofis bagi hubungan manusia dengan janji, harta, dan kewajiban.

Teks dan Terjemahan QS Al-Isra Ayat 34

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۚ وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

"Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang paling baik (untuk memeliharanya), sampai ia dewasa dan ia pun dapat mengurus hartanya. Dan penuhilah segala janji. Sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya."

Pesan Utama Mengenai Harta Yatim

Ayat ini diawali dengan larangan tegas terkait harta anak yatim. Allah SWT memerintahkan agar umat-Nya tidak menyentuh atau memanfaatkan harta yang ditinggalkan oleh orang tua mereka yang telah meninggal, kecuali dalam batasan yang paling bermanfaat bagi si yatim.

Larangan ini bukan sekadar larangan mengambil, tetapi juga larangan mendekati, yang mengindikasikan bahwa bahkan niat untuk menyalahgunakan harta tersebut harus dihindari. Ketika anak yatim telah mencapai usia baligh dan kematangan (asyudduhu), barulah mereka berhak mengelola aset mereka sendiri. Ini menegaskan prinsip perlindungan aset dan hak milik yang fundamental dalam Islam, menunjukkan kepedulian mendalam terhadap kelompok rentan dalam masyarakat.

Fokus pada Penunaian Janji (Al-'Ahd)

Bagian kedua dari ayat ini beralih ke sebuah kaidah moral yang universal: "Dan penuhilah segala janji. Sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya."

Frasa "wa aufū bil 'ahd" (dan penuhilah janji) mencakup semua bentuk komitmen—janji kepada Allah (seperti ibadah dan nazar), janji kepada sesama manusia (transaksi, perjanjian), dan bahkan janji pada diri sendiri untuk berbuat baik. Dalam konteks yang lebih luas, ini adalah panggilan untuk konsistensi dan integritas. Ketika seseorang membuat sebuah ikrar atau kesepakatan, ia telah menciptakan suatu 'ikatan' yang harus dihormati.

Klausa penutup, "Innal 'ahda kāna mas'ūlā," adalah penekanan yang sangat kuat. Ini menegaskan bahwa janji bukanlah urusan sepele yang bisa dilupakan. Di akhirat kelak, setiap janji yang kita buat—baik yang disaksikan manusia maupun yang hanya diketahui oleh diri sendiri—akan dipertanyakan di hadapan Allah SWT. Ini menempatkan tanggung jawab moral pada tingkat spiritual tertinggi.

Relevansi dalam Kehidupan Modern

QS Al-Isra ayat 34 memberikan pedoman etika yang sangat relevan di era modern. Dalam konteks bisnis dan sosial, janji adalah mata uang kepercayaan. Ketika kontrak atau janji lisan diabaikan, fondasi masyarakat akan terkikis. Ayat ini mengajarkan bahwa integritas pribadi dibangun di atas kemampuan untuk menepati setiap komitmen yang telah diucapkan.

Selain itu, ayat ini juga mengingatkan kita untuk menjadi wali yang bertanggung jawab atas amanah yang di titipkan, baik itu harta, amanah profesi, maupun kepercayaan publik. Kewajiban untuk memelihara dan mengembalikan hak orang lain dengan sempurna adalah manifestasi nyata dari ketakwaan yang sesungguhnya. Dengan memahami dan mengamalkan ayat ini, seorang Muslim didorong untuk hidup dengan penuh tanggung jawab, menjunjung tinggi keadilan, dan menjaga kehormatan setiap kesepakatan yang dibuatnya.

🏠 Homepage