Mengenal Firman Allah: QS Al-Isra Ayat 39

Simbol Keteraturan dan Keesaan Ilustrasi garis-garis rapi dan sebuah lingkaran tunggal di tengah, melambangkan keesaan Allah SWT. 1

Penjelasan QS Al-Isra Ayat 39

Al-Qur'an adalah sumber petunjuk utama bagi umat Islam. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang secara tegas membedakan antara kebenaran dan kesesatan. Salah satu penegasan yang sangat krusial terdapat dalam Surat Al-Isra (juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj) ayat ke-39. Ayat ini merupakan bagian dari rangkaian instruksi ilahiah yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, yang juga mengandung pelajaran universal bagi seluruh umat manusia.

Ayat ini secara spesifik membahas larangan keras terhadap praktik syirik, yaitu menyekutukan Allah SWT dengan makhluk ciptaan-Nya. Syirik adalah dosa terbesar dalam Islam, dan Al-Isra ayat 39 menegaskan posisi tauhid sebagai fondasi utama keimanan.

ذَٰلِكَ مِمَّا أَوْحَىٰ إِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِ ۗ وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتُلْقَىٰ فِي جَهَنَّمَ مَلُومًا مَّدْحُورًا
"Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu (wahai Muhammad). Dan janganlah engkau menjadikan tuhan yang lain beserta Allah, nanti (jika engkau melakukannya) engkau akan dicampakkan ke dalam Jahannam dalam keadaan tercela dan terusir." (QS. Al-Isra: 39)

Makna Hikmah dan Peringatan Keras

Bagian awal ayat, "Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu," menegaskan bahwa perintah yang terkandung di dalamnya—khususnya larangan syirik—bukanlah sekadar aturan sosial, melainkan puncak dari kebijaksanaan ilahi. Hikmah di sini merujuk pada pemahaman mendalam mengenai kebenaran dan realitas penciptaan alam semesta. Realitas tersebut adalah bahwa hanya ada satu Dzat yang berhak disembah, yaitu Allah SWT.

Perintah kunci terletak pada frasa "Wa laa taj'al ma'al-Laahi ilaaahan aakhara" (Dan janganlah engkau menjadikan tuhan yang lain beserta Allah). Ayat ini menggunakan gaya bahasa peringatan yang sangat tegas. Meskipun ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, pesan ini bersifat umum untuk semua pengikutnya. Menetapkan sekutu bagi Allah adalah pengkhianatan terhadap esensi risalah para nabi.

Konsekuensi Fatal dari Syirik

Konsekuensi dari pelanggaran terhadap larangan ini dijelaskan dengan sangat jelas di akhir ayat: "Fatulqaa fil-Jahannama maluumam madhuuraa" (nanti engkau akan dicampakkan ke dalam Jahannam dalam keadaan tercela dan terusir).

Pencampakan ke neraka Jahannam adalah hukuman akhir bagi orang yang melakukan kekufuran terbesar. Kata "maluumam" (tercela) menunjukkan bahwa tindakan tersebut akan menimbulkan rasa malu dan penyesalan yang mendalam, bukan hanya akibat hukumannya, tetapi juga karena menyadari kesalahan fatal yang telah dilakukan. Sementara kata "madhuuraa" (terusir) mengindikasikan pengusiran total dari rahmat dan hadirat Allah SWT.

Dalam konteks tauhid, syirik adalah penghapusan total segala amalan baik lainnya. Islam mengajarkan bahwa shalat, puasa, sedekah, dan semua ibadah lainnya menjadi sia-sia jika dasar keimanannya tercemar oleh perbuatan menyekutukan Allah. Oleh karena itu, menjaga kemurnian akidah adalah prioritas utama.

Mengapa Syirik Begitu Dilarang?

Mengapa peringatan mengenai QS Al Isra 39 ini begitu keras? Karena syirik merusak hubungan fundamental antara manusia dan Penciptanya. Manusia diciptakan untuk beribadah (berbakti) kepada Allah, dan ibadah yang benar hanya sah jika ditujukan secara eksklusif kepada Al-Khaliq (Pencipta).

Ketika seseorang menyembah selain Allah—entah itu berhala, hawa nafsu, pemimpin yang zalim, atau bahkan benda-benda alam—ia telah menempatkan sesuatu yang diciptakan pada posisi Sang Pencipta. Ini adalah bentuk ketidakadilan tertinggi terhadap Allah, dan merupakan bentuk penolakan terhadap seluruh ajaran kenabian.

Memahami ayat ini mendorong seorang Muslim untuk terus melakukan muhasabah (introspeksi diri). Dalam kehidupan modern, potensi syirik bisa muncul dalam bentuk yang halus, seperti terlalu bergantung pada jimat, percaya takhayul yang bertentangan dengan syariat, atau menempatkan kekayaan materi melebihi ketaatan kepada perintah Allah. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat abadi: Jalan menuju keselamatan hanya satu, yaitu jalan tauhid yang murni, seperti yang diwahyukan dalam Al-Isra ayat 39.

🏠 Homepage