Kutipan dari Surat Al-Isra ayat ke-44 adalah salah satu ayat yang membuka cakrawala pemahaman kita mengenai luasnya keagungan Allah SWT. Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa segala sesuatu yang diciptakan, baik yang kita sadari keberadaannya maupun yang tersembunyi, senantiasa memuji dan mengagungkan Penciptanya. Meskipun demikian, manusia, dengan keterbatasan inderanya, sering kali gagal menangkap atau memahami frekuensi pujian tersebut.
Ayat ini mengajak kita merenungkan konsep alam semesta sebagai sebuah simfoni pujian yang tak pernah berhenti. Dari atom terkecil hingga bintang terjauh, semua tunduk pada hukum alam yang telah ditetapkan Allah. Dalam pandangan tauhid, kepatuhan alam terhadap hukum fisika, kimia, dan biologi itu sendiri merupakan bentuk tertinggi dari 'tasbih' (penyucian/penghargaan) kepada Allah.
Para mufassir sering menjelaskan bahwa tasbih yang dimaksud bisa bersifat hakiki (nyata, melalui proses eksistensinya) atau makna (pemahaman kita bahwa keberadaan mereka membuktikan kebesaran Allah). Misalnya, tanaman yang tumbuh menuju cahaya matahari, air yang mengalir dari tempat tinggi ke rendah, atau planet yang berputar pada porosnya secara teraturāsemua adalah manifestasi kepatuhan yang tiada henti kepada Sang Pencipta. Manusia, sebagai makhluk yang dianugerahi akal, seharusnya mampu menjadi yang paling lantang dalam pujian ini.
Poin krusial kedua dalam QS Al-Isra ayat 44 adalah pengakuan atas ketidakmampuan kita memahami tasbih tersebut. Ini adalah pengingat akan kerendahan hati (tawadhu'). Sains modern mungkin bisa menjelaskan bagaimana sebuah bintang bereaksi terhadap gravitasi atau bagaimana sel bereplikasi, namun ia tidak akan pernah bisa menjelaskan 'mengapa' semua itu terjadi atau 'rasa' pujian yang keluar dari proses tersebut.
Keterbatasan ini menunjukkan adanya dimensi spiritual dan metafisik yang jauh melampaui jangkauan indra manusia biasa. Jika kita hanya mengandalkan apa yang bisa kita lihat, sentuh, atau ukur, kita akan kehilangan esensi kebenaran yang lebih besar. Oleh karena itu, keimanan (iman) diperlukan sebagai jembatan untuk menerima kebenaran yang tak terjangkau oleh nalar murni. Ketika kita membaca ayat ini, kita didorong untuk tidak menganggap alam sebagai objek mati, melainkan sebagai entitas hidup yang terus-menerus bersaksi atas keesaan Allah.
Setelah menekankan keagungan-Nya yang melampaui pemahaman kita, Allah SWT menutup ayat ini dengan dua sifat-Nya yang paling menenangkan: Al-Haliim (Maha Penyantun) dan Al-Ghafuur (Maha Pengampun). Kontras yang tajam ini sangat mendidik. Di satu sisi, ada keagungan dan kekuasaan tak terbatas yang membuat kita merasa kecil; di sisi lain, ada belas kasih yang luas yang menerima keterbatasan kita.
Sifat Al-Haliim menunjukkan bahwa meskipun kita sering lalai, melupakan kewajiban kita untuk berzikir dan bersyukur secara sadar, Allah menahan murka-Nya. Ia memberi kita kesempatan dan waktu untuk kembali kepada jalan yang benar. Sementara itu, Al-Ghafuur menegaskan bahwa pintu ampunan selalu terbuka bagi mereka yang bertaubat. Meskipun kita tidak mampu menyamai pujian alam semesta, kerendahan hati kita yang diiringi penyesalan akan diterima oleh-Nya.
Oleh karena itu, menghayati QS. Al-Isra ayat 44 berarti menerima dua kebenaran fundamental: pertama, keagungan Allah yang maha luas dan tak terbatas, dan kedua, rahmat-Nya yang tak terhingga, yang mengayomi kita di tengah ketidaksempurnaan pemahaman kita sebagai hamba-Nya. Ayat ini adalah seruan untuk hidup dalam kesadaran bahwa segala sesuatu di sekitar kita adalah bukti kebesaran-Nya, dan bahwa dalam kesadaran itu, kita harus selalu memohon ampunan dan rahmat-Nya.