Ilustrasi Penghormatan atas Keturunan Adam
Setiap ayat dalam Al-Qur'an memiliki konteks, hikmah, dan implikasi mendalam bagi kehidupan seorang Muslim. Salah satu ayat yang menyoroti status tinggi manusia di mata Sang Pencipta adalah Surat Al-Isra ayat ke-70. Ayat ini, yang seringkali dibaca dan direnungkan, memberikan landasan teologis mengenai martabat penciptaan kita. Ayat ini turun untuk menegaskan kemuliaan yang telah dianugerahkan Allah kepada seluruh keturunan Nabi Adam, terlepas dari latar belakang, suku, atau ras mereka.
Pernyataan ini bukan sekadar pujian tanpa dasar, melainkan sebuah deklarasi ilahiah yang memiliki konsekuensi besar dalam cara kita memandang diri sendiri dan sesama. Penghormatan yang dimaksudkan mencakup pemberian akal, kemampuan berbicara (bernalar), kemampuan berjalan tegak, serta penguasaan atas sebagian besar alam semesta yang tunduk pada kehendak manusia.
Kata kunci dalam ayat ini adalah "Karramna Bani Adam" (Kami telah memuliakan Bani Adam). Pemuliaan ini terwujud dalam beberapa dimensi fundamental yang membedakan manusia dari makhluk lain:
Ayat ini sering diartikan mencakup anugerah akal (rasio) dan kemampuan berbicara yang jelas. Akal memungkinkan manusia untuk belajar, membedakan yang benar dan salah, serta memahami perintah dan larangan Allah. Kemampuan berkomunikasi memungkinkan penyampaian ilmu dan peradaban antar generasi. Ini adalah fondasi bagi pembangunan masyarakat yang beradab dan beriman.
"Kami angkut mereka di darat dan di laut" adalah metafora kuat untuk kemampuan manusia memanfaatkan alam. Kita mampu membangun kendaraan darat yang cepat, kapal yang menembus samudra, bahkan terbang di udara—semua ini adalah bentuk fasilitas dan penghormatan yang diberikan Allah agar manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah.
Allah tidak hanya memberikan rezeki, tetapi rezeki yang baik (halal, bersih, dan bermanfaat). Ini menunjukkan bahwa standar hidup yang disediakan bagi manusia adalah standar kemuliaan. Hal ini menuntut manusia untuk bersyukur dan hanya menggunakan anugerah tersebut untuk tujuan yang baik dan sesuai syariat.
Penegasan bahwa manusia dilebihkan atas "kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan" menekankan posisi sentral manusia. Meskipun ada makhluk yang memiliki keunggulan fisik tertentu (misalnya, kecepatan Cheetah atau kekuatan Gajah), manusia memiliki keunggulan komprehensif yang memungkinkannya mengelola dan memanfaatkan keunggulan fisik makhluk lain.
Pemahaman mendalam terhadap ayat 70 surat Al-Isra membawa tanggung jawab moral yang besar. Jika kita telah dimuliakan, maka tindakan kita harus mencerminkan kemuliaan tersebut. Pertama, **penghormatan terhadap diri sendiri**; kita tidak boleh merendahkan martabat diri kita sendiri dengan melakukan perbuatan yang hina atau maksiat. Kedua, **penghormatan terhadap sesama manusia**. Karena semua manusia adalah Bani Adam yang dimuliakan, maka konsep diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, atau kekayaan menjadi batal demi hukum ilahi. Setiap nyawa manusia memiliki nilai yang tak terhingga di hadapan Allah.
Keistimewaan yang diberikan Allah ini menuntut pertanggungjawaban. Kemuliaan tersebut adalah amanah. Bagaimana kita menggunakan akal kita? Apakah kita menggunakannya untuk mendekat kepada Allah atau justru untuk menciptakan kerusakan? Apakah kita menggunakan fasilitas darat dan laut untuk kebaikan atau penindasan? Ayat ini menjadi pengingat konstan bahwa status mulia hanya bertahan selama kita taat pada sumber kemuliaan itu sendiri, yaitu Allah SWT.
Renungan atas QS Al-Isra ayat 70 ini mengokohkan keyakinan bahwa kemanusiaan adalah kehormatan tertinggi yang harus dijaga, dihargai, dan dikembangkan sesuai dengan tuntunan ilahi.