Memahami Kekuatan Kebenaran dalam Islam

Dalam lembaran Al-Qur'an yang suci, terdapat ayat-ayat yang menjadi pilar utama dalam membangun keyakinan dan perilaku umat Islam. Salah satu ayat yang sarat makna dan memiliki dampak spiritual yang mendalam adalah Surah Al-Isra ayat ke-81. Ayat ini bukan sekadar teks, melainkan sebuah janji ilahi tentang kekekalan kebenaran di tengah badai kebatilan.

Simbol Cahaya Kebenaran Gambar ini merepresentasikan sebuah sinar cahaya (kebenaran) yang kuat menembus kegelapan yang pekat.

Ilustrasi: Kekuatan Kebenaran Melenyapkan Kegelapan

Teks dan Terjemahan QS Al-Isra Ayat 81

Ayat ini secara spesifik berbicara tentang kepastian datangnya kebenaran dan lenyapnya kebatilan. Berikut adalah teks aslinya beserta terjemahannya:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

(Wa qul jā’al-ḥaqqu wa zahaqal-bāṭil, innal-bāṭila kāna zahuqā.)

Artinya: "Dan katakanlah: 'Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah lenyap.' Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap." (QS. Al-Isra: 81)

Makna Sentral: Janji Kepastian

Ayat ini adalah deklarasi yang tegas. Ia disampaikan oleh Allah SWT melalui lisan Nabi Muhammad SAW sebagai respons terhadap keraguan dan perlawanan yang dihadapi beliau saat menyebarkan risalah tauhid di Mekkah. Kata kunci dalam ayat ini adalah "Al-Haqq" (Kebenaran) dan "Al-Baathil" (Kebatilan).

Al-Haqq di sini merujuk pada Islam, ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad, serta janji-janji Allah yang pasti terwujud. Sementara itu, Al-Baathil adalah segala bentuk kesesatan, kemusyrikan, kebohongan, dan dominasi hawa nafsu yang bertentangan dengan syariat Allah.

Klausa pertama, "Kebenaran telah datang," menandakan bahwa proses penegakan kebenaran telah dimulai. Ini bukanlah proses yang bersifat sementara, melainkan sebuah perubahan fundamental yang tak terhindarkan. Kedatangan Islam merupakan titik balik sejarah yang mengubah paradigma masyarakat jahiliyah menuju peradaban yang berlandaskan wahyu.

Kegelapan yang Pasti Musnah

Bagian kedua ayat ini memberikan jaminan yang sangat menguatkan: "Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap." Kata zahuqan (lenyap) menunjukkan sifat inheren dari kebatilan itu sendiri. Kebatilan, karena ia tidak memiliki landasan substansial yang hakiki (berasal dari ciptaan yang fana dan logika yang cacat), secara kodrati akan selalu berakhir dengan kehancuran dan ketiadaan.

Dalam konteks sejarah, kita melihat bagaimana kekuatan-kekuatan yang menentang keras risalah Nabi—berupa praktik penyembahan berhala, tirani Quraisy, hingga kekejaman lainnya—pada akhirnya runtuh dan lenyap ditelan waktu. Kebatilan mungkin tampak kuat sesaat, ia bisa mendominasi, menindas, dan menciptakan ilusi kekuasaan yang besar, namun ia tetaplah rapuh.

Aplikasi Spiritual dan Motivasi Harian

Bagi seorang Muslim, Al-Isra ayat 81 berfungsi sebagai sumber motivasi dan penenang jiwa:

  1. Keteguhan dalam Dakwah: Ayat ini mendorong umat Islam untuk tidak gentar dalam menyampaikan kebenaran, meskipun menghadapi penolakan keras. Karena secara metafisik, kebenaran pasti menang.
  2. Harapan di Masa Sulit: Ketika seorang Muslim menghadapi kesulitan hidup, ketidakadilan, atau kezaliman, ayat ini mengingatkan bahwa segala bentuk kesulitan yang berbasis kebatilan akan berlalu. Kesabaran adalah kunci untuk menyaksikan lenyapnya kebatilan tersebut.
  3. Kewaspadaan Diri: Ayat ini juga menjadi introspeksi. Kita harus memastikan bahwa kita sendiri tidak terjerumus ke dalam "kebatilan" dalam bentuk apapun, baik dalam akidah, ibadah, maupun muamalah (interaksi sosial).

Ayat ini memberikan optimisme yang realistis. Kemenangan kebenaran bukanlah sekadar harapan kosong, melainkan sebuah keniscayaan yang telah Allah janjikan. Tugas kita adalah menjadi agen yang membawa dan menegakkan kebenaran tersebut di bumi, dengan keyakinan penuh bahwa hasil akhirnya sudah ditetapkan: Kebatilan pasti musnah.

Refleksi Kontemporer

Di era informasi yang serba cepat, di mana berita palsu (hoaks) dan narasi menyesatkan mudah menyebar, makna QS Al-Isra 81 menjadi semakin relevan. Kebatilan hari ini mungkin berbentuk ideologi sesat, korupsi merajalela, atau penindasan sistematis. Meskipun kebatilan itu terlihat kokoh dan luas jangkauannya, seorang mukmin harus yakin bahwa pondasinya terbuat dari lumpur yang akan kering dan hancur. Sebaliknya, kebenaran (Al-Haqq), yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Kekal, akan selalu menemukan jalannya untuk bersinar dan menyingkap kepalsuan.

Oleh karena itu, ayat ini menjadi benteng spiritual yang mengingatkan kita untuk senantiasa berpegang teguh pada prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, dan tauhid, karena dalam genggaman kebenaran itulah terletak kekuatan sejati yang tidak akan pernah lekang oleh zaman.

🏠 Homepage