Dalam khazanah ajaran Islam, konsep pengampunan (maghfirah) dan rahmat Allah SWT adalah inti dari ajaran tauhid yang memberikan harapan abadi bagi setiap insan. Salah satu ayat yang menegaskan pentingnya pertobatan dan janji kemudahan setelah kesulitan adalah Surah Al-Isra ayat 8. Ayat ini bukan sekadar janji kosong, melainkan sebuah fondasi spiritual yang mendorong umat manusia untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Ilahi.
Ayat ini mengandung dua bagian penting yang saling berkaitan: janji akan rahmat yang didahului dengan harapan ("'Asa") dan konsekuensi tegas bagi pengulangan kesalahan tanpa pertobatan.
Frasa pembuka ayat ini, "Wa 'asa Rabbukum an Yarhamakum," adalah penegasan bahwa pintu rahmat Allah selalu terbuka lebar. Kata 'Asa dalam konteks Al-Qur'an sering diartikan sebagai kepastian atau harapan yang sangat kuat, bukan keraguan. Ini ditujukan kepada Bani Israil yang saat itu sedang menghadapi kesulitan akibat pembangkangan mereka terhadap perintah Allah, namun ayat ini memberikan pesan universal bagi seluruh umat manusia.
Rahmat di sini mencakup pengampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan, pertolongan dalam kesulitan duniawi, dan yang terpenting, rahmat di akhirat. Allah menekankan bahwa sifat-Nya adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Selama seorang hamba kembali mendekat, mengakui kelemahan, dan berniat tulus untuk berubah, kasih sayang-Nya siap menyambut.
Bagian kedua ayat ini berfungsi sebagai penyeimbang yang tegas: "Wa in 'udtum 'udna." Jika manusia kembali melakukan pelanggaran, melakukan maksiat lagi setelah mendapatkan kesempatan bertobat dan diampuni, maka konsekuensi logisnya adalah Allah akan mengulangi hukuman atau cobaan yang telah ditetapkan. Ini bukanlah bentuk balas dendam dari Tuhan, melainkan konsekuensi alami dari pilihan sadar manusia.
Ayat ini mengajarkan tentang pentingnya konsistensi dalam ketaatan. Pertobatan yang sesungguhnya (tawbatun nasuh) menuntut adanya perubahan fundamental dalam perilaku, bukan sekadar pengakuan lisan yang diikuti dengan pengulangan kesalahan yang sama. Siklus ini menggambarkan hukum sebab-akibat yang berlaku universal: kebaikan akan menarik rahmat, sedangkan keburukan yang berulang akan menarik kesulitan atau azab.
Ayat ditutup dengan pengingat yang keras mengenai nasib akhir bagi mereka yang memilih untuk terus berada dalam kekafiran dan penolakan total terhadap kebenaran: "Waja'alna Jahannama lil-kafirina hasiran." Neraka Jahannam dijadikan sebagai penjara atau tempat penahanan bagi orang-orang kafir.
Fungsi dari pengingat ini adalah untuk memberikan perspektif. Jika di dunia ini manusia diberikan pilihan untuk bertobat dan meraih rahmat, maka pilihan untuk menolak kebenaran hingga akhir hayat akan berujung pada konsekuensi abadi. Jahannam adalah tempat yang disiapkan bagi mereka yang menolak janji dan rahmat yang telah ditawarkan Allah selama hidup mereka.
Pesan utama ayat 8 dari Surah Al-Isra adalah harapan dan tanggung jawab. Pertama, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah, karena rahmat itu selalu tersedia bagi yang mau kembali. Kedua, gunakan rahmat tersebut sebagai motivasi untuk memperbaiki diri secara berkelanjutan, bukan sebagai izin untuk terus berbuat salah. Setiap kali kita jatuh, ayat ini mengingatkan kita untuk segera bangkit, memohon ampun, dan bertekad kuat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dengan demikian, kita senantiasa berada di jalur yang mengundang limpahan rahmat Ilahi, menjauh dari hukuman yang diakibatkan oleh pengulangan kesalahan.