وَقَفَّيْنَا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِم بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلتَّوْرَىٰةِ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ ٱلْإِنجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلتَّوْرَىٰةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ
"Dan Kami iringi jejak mereka dengan (mengutus) Isa putra Maryam, membenarkan Taurat yang datang sebelumnya, dan Kami telah memberikan kepadanya Injil, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya (menerangi), dan membenarkan Taurat yang datang sebelumnya; serta petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa."
Ayat 5 dari Surah Al-Maidah ini merupakan salah satu titik sentral dalam Al-Qur'an yang membahas hubungan antara kitab-kitab suci yang diturunkan Allah SWT sebelumnya. Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa kedatangan Nabi Isa AS dan kitab suci Injil (Al-Kitab) bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri atau bertentangan total, melainkan merupakan **kelanjutan dan pengukuhan** dari risalah yang dibawa oleh Nabi Musa AS melalui Taurat.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "membenarkan Taurat yang datang sebelumnya". Ini menunjukkan prinsip fundamental dalam Islam: kenabian dan wahyu bersifat progresif. Setiap nabi datang untuk menyempurnakan dan meneguhkan ajaran pokok yang dibawa oleh nabi sebelumnya, dengan penyesuaian syariat (hukum) sesuai kebutuhan zaman dan umatnya. Bagi Bani Israil yang menerima Taurat, kedatangan Nabi Isa AS membawa berita gembira sekaligus penguat keyakinan mereka pada kebenaran asal Taurat.
Selain membenarkan, Allah SWT juga memberikan Injil kepada Nabi Isa AS. Ayat ini memberikan deskripsi yang sangat indah mengenai fungsi Injil: "di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya (menerangi)". Kata 'hudan' (petunjuk) merujuk pada pedoman moral, hukum, dan akidah. Sementara 'nur' (cahaya) menyimbolkan pencerahan spiritual, kejelasan akal, dan penyingkap kegelapan kesesatan. Injil hadir untuk membimbing umat Nabi Isa menuju jalan kebenaran yang lebih terang.
Ayat ini tidak berhenti pada umat terdahulu. Di akhir ayat, disebutkan bahwa Injil juga mengandung "petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa". Ini menunjukkan bahwa nilai inti dari ajaran yang dibawa oleh para nabi terdahulu—termasuk pengesaan Allah, pentingnya keadilan, dan etika moral yang luhur—tetap relevan dan menjadi pedoman utama bagi setiap Muslim yang bertakwa, terlepas dari kitab mana yang mereka ikuti secara historis. Takwa menjadi filter utama untuk memahami dan mengamalkan hikmah di dalam wahyu ilahi.
Memahami QS Al-Maidah 5:46 memberikan landasan teologis bagi Muslim untuk menghormati kitab-kitab suci yang diwahyukan sebelum Al-Qur'an. Meskipun umat Islam meyakini bahwa teks Taurat dan Injil telah mengalami perubahan signifikan dari bentuk aslinya (sehingga Al-Qur'an datang sebagai penjaga dan pemuncak), prinsip dasar tauhid yang ada di dalamnya tetap diakui sebagai kebenaran yang berasal dari sumber yang sama: Allah SWT. Ayat ini menegaskan bahwa semua nabi diutus dengan misi tunggal, yaitu menyeru manusia kepada ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kontinuitas risalah ini menjadi dasar toleransi beragama yang mengajarkan pengakuan terhadap para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.