الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۖ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Ayat kelima dari Surah Al-Maidah ini merupakan penegasan penting mengenai hukum makanan dan pernikahan dalam Islam. Ayat ini diawali dengan kabar gembira bahwa segala sesuatu yang baik (thayyibat) telah dihalalkan bagi umat Nabi Muhammad SAW, menandakan kemudahan dalam syariat. Poin krusial lainnya adalah diperbolehkannya mengonsumsi makanan yang disembelih oleh Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) serta diperbolehkannya menikahi wanita-wanita muhshinat (yang menjaga kesucian) dari kalangan mereka, asalkan dilakukan sesuai syariat (yaitu dengan mahar dan niat pernikahan yang benar, bukan zina atau hubungan terlarang).
Penekanan diberikan pada integritas niat dan praktik. Pernikahan harus dilakukan dengan tujuan menjaga kehormatan (muhshiniin), bukan untuk pelacuran (musaafihin) atau menjalin hubungan gelap (muttakhidzi akhdaan). Ayat ditutup dengan peringatan keras bahwa menolak keimanan setelah memeluknya akan menghapus seluruh amal perbuatan dan menyebabkan kerugian di akhirat. Ayat ini menunjukkan keseimbangan antara toleransi (dalam makanan) dan batasan tegas (dalam muamalah dan pernikahan).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Ayat kedelapan dari Surah Al-Maidah ini adalah salah satu pilar utama dalam etika sosial dan hukum Islam, berpusat pada imperatif universal tentang keadilan (qisth). Ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman, memerintahkan mereka untuk menjadi penegak keadilan yang teguh semata-mata karena Allah SWT, bahkan ketika bertindak sebagai saksi. Keadilan harus didasarkan pada kebenaran, bukan atas dasar kepentingan pribadi atau sentimen emosional.
Pesan yang sangat kuat dalam ayat ini adalah larangan agar kebencian atau permusuhan terhadap suatu kelompok (syana’aanu qawmin) tidak menghalangi seseorang untuk bersikap adil. Ini adalah standar moral tertinggi, di mana emosi negatif terhadap kelompok tertentu tidak boleh memengaruhi objektivitas hukum atau perilaku sehari-hari. Islam menuntut umatnya untuk berlaku adil tanpa memandang siapa pihak yang terlibat; apakah mereka teman, kerabat, atau bahkan musuh.
Ayat ini menutup dengan penegasan bahwa berlaku adil adalah jalan yang paling mendekati takwa (ketakutan kepada Allah). Keadilan adalah manifestasi nyata dari ketakwaan. Dan sebagai penutup, Allah mengingatkan bahwa Dia Maha Mengetahui segala perbuatan yang dilakukan hamba-Nya, menjadikan pertanggungjawaban atas perilaku adil atau zalim tidak dapat dihindari.
Kedua ayat ini, Al-Maidah 5 dan 8, memberikan landasan kuat mengenai prinsip-prinsip kehidupan bermasyarakat dalam Islam: keseimbangan antara kemudahan syariat dan ketegasan moral, serta kewajiban mutlak untuk selalu menegakkan keadilan di atas segalanya.