Surah Al-Hijr (QS 15) adalah salah satu bab dalam Al-Qur'an yang kaya akan narasi historis, peringatan ilahiah, dan penguatan iman. Nama surah ini diambil dari nama sebuah wilayah legendaris tempat kaum Tsamud bermukim. Bagi umat Islam, mempelajari QS Hijr bukan sekadar membaca kisah lampau, melainkan menggali pelajaran mendalam mengenai konsekuensi menolak kebenaran dan keajaiban ciptaan Allah SWT.
Inti dari surah ini berpusat pada kisah kaum Tsamud, yang diutus kepada mereka Nabi Saleh AS. Kaum Tsamud adalah masyarakat yang maju, mahir dalam seni memahat dan membangun rumah-rumah megah di bebatuan karang di wilayah yang dikenal sebagai Al-Hijr. Kemakmuran ini ironisnya membawa mereka pada kesombongan dan penolakan terhadap seruan tauhid yang dibawa oleh Nabi Saleh.
Pesan utama yang disampaikan Nabi Saleh kepada kaumnya adalah peringatan untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan penyembahan berhala. Namun, seperti banyak umat terdahulu, kesombongan duniawi membuat mereka menolak nasihat tersebut. Permintaan mukjizat pun diajukan, dan Allah mengabulkannya melalui kelahiran unta betina yang ajaib dari batu—sebuah tanda nyata kebenaran kenabian Saleh.
Meskipun telah diberikan bukti nyata, kaum Tsamud memilih untuk membunuh unta tersebut. Tindakan ini merupakan puncak pembangkangan mereka terhadap perintah Allah dan Nabi Saleh. Dalam konteks QS Hijr, hukuman yang diturunkan menjadi pelajaran keras: jika kaum yang memiliki peradaban tinggi dan kekuatan alam (memahat batu) berani menentang Tuhan, maka kehancuran adalah harga yang harus dibayar. Allah SWT memberikan tenggang waktu tiga hari bagi mereka sebelum azab datang, menunjukkan sifat kasih sayang-Nya bahkan dalam ancaman hukuman.
Selain kisah profetik, QS Hijr juga menyoroti keindahan dan keaslian Al-Qur'an itu sendiri. Ayat-ayat awal menekankan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang dijamin keotentikannya dan tidak mungkin dipalsukan. Hal ini berfungsi sebagai pembelaan diri Tuhan terhadap tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh kaum musyrik Makkah yang menganggap Nabi Muhammad SAW sebagai penyair atau orang gila.
Surah ini juga memuat perintah tegas kepada Rasulullah SAW untuk tidak bersedih hati atas penolakan kaumnya. Dalam ayat 88, diperintahkan untuk bersabar dan menjadikan penolakan itu sebagai ujian kesabaran, sambil terus menyeru manusia kepada kebenaran. Ini memperkuat bahwa tugas seorang Nabi adalah menyampaikan risalah, bukan memaksa keimanan.
QS Hijr mengajak pembaca merenungkan kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya. Disebutkan tentang penciptaan gunung sebagai pasak bumi, tentang siklus hujan sebagai sumber kehidupan, dan tentang bintang-bintang yang dijadikan perhiasan langit sekaligus penjaga dari gangguan setan. Ini adalah cara Al-Qur'an mengajarkan sains dalam bingkai keimanan.
Kisah Kaum Tsamud mengingatkan bahwa kemajuan teknologi atau kemewahan peradaban (seperti kemampuan memahat gunung) tidak akan menyelamatkan seseorang dari azab jika hati mereka telah tertutup oleh kesombongan dan kekufuran. Mereka yang berpaling dari kebenaran, walau sekuat apapun kekuasaan duniawinya, akan menemukan akhir yang sama—kehancuran total. Oleh karena itu, perenungan mendalam terhadap ayat-ayat dalam QS Hijr harus mendorong kita untuk senantiasa bersyukur, rendah hati, dan patuh kepada perintah Allah SWT, sebelum azab datang menimpa.