Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil (Anak-anak Israel), adalah surat ke-17 dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Surat ini terdiri dari 111 ayat dan tergolong Makkiyah, diturunkan sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Nama Al-Isra sendiri merujuk pada peristiwa luar biasa yang menjadi pembuka surah, yaitu perjalanan malam suci Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, yang dikenal sebagai Isra’ Mi’raj. Peristiwa monumental ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah mukjizat besar yang menguatkan keyakinan kaum Muslimin di tengah masa-masa sulit dakwah.
Lebih dari sekadar kisah perjalanan malam, Surah Al-Isra memuat spektrum luas ajaran Islam, mencakup tauhid, etika sosial, peringatan terhadap umat-umat terdahulu, serta panduan moral bagi individu dan masyarakat. Surat ini berfungsi sebagai pengingat akan kekuasaan Allah SWT dan konsekuensi dari setiap perbuatan, baik di dunia maupun akhirat.
Salah satu bagian terpenting dari Surah Al-Isra adalah penekanan kuat pada akhlak mulia dan etika interaksi sosial. Ayat 23 hingga 39 sering disebut sebagai 'Deklarasi Hak Asasi Manusia' versi Islam yang komprehensif. Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang tua dengan cara terbaik, menghindari perkataan kasar, dan berlaku lemah lembut terhadap mereka. Penghormatan terhadap orang tua adalah prioritas utama setelah perintah tauhid.
Lebih jauh, surat ini memberikan panduan tegas mengenai keadilan ekonomi dan sosial. Terdapat larangan keras melakukan pembunuhan (kecuali dalam hak yang dibenarkan syariat), mendekati zina, dan memakan harta anak yatim secara tidak benar. Surat Al-Isra juga menyerukan untuk menepati janji dan berlaku jujur dalam segala timbangan dan ukuran, mengingatkan bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan. Ayat 15 menegaskan prinsip keadilan universal: "Barangsiapa mendapat petunjuk, maka itu untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tersesat, maka kerugiannya ditanggung oleh dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain."
Surah Al-Isra juga sarat dengan ayat-ayat yang mendorong eksplorasi ilmu pengetahuan dan pemahaman alam semesta. Ayat 81, yang sering dikaitkan dengan mukjizat Isra’ Mi’raj, menyatakan: "Dan katakanlah: Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap." Ayat ini mengandung pesan filosofis mendalam tentang kemenangan hak atas batil, yang berlaku secara universal dalam konteks ilmu pengetahuan dan kebenaran.
Selain itu, ayat 88 secara eksplisit menantang siapa pun—manusia atau jin—untuk menciptakan sesuatu yang setara dengan Al-Qur'an, menunjukkan keunikan dan kemukjizatan teks suci ini, bahkan dari sudut pandang sastra dan bahasa. Tantangan ini menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah yang tak tertandingi.
Dalam konteks sains modern, beberapa penafsir melihat adanya petunjuk mengenai batasan pemahaman manusia terhadap hal-hal gaib, seperti roh (ruh) dalam ayat 85. Allah menyatakan bahwa manusia hanya diberi pengetahuan sangat sedikit tentang roh. Ini mengajarkan kerendahan hati intelektual di hadapan ilmu Allah yang Maha Luas.
Surah ini juga berisi peringatan keras kepada kaum Quraisy Mekkah, yang sering kali menantang kebenaran ajaran Islam. Allah SWT mengingatkan mereka tentang nasib umat-umat terdahulu yang mendustakan rasul, seperti kaum 'Ad dan Tsamud. Peringatan ini berfungsi sebagai cermin historis agar kaum Quraisy tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Di sisi lain, Al-Isra menutup dengan janji rahmat dan harapan. Ayat penutup mengajak manusia untuk selalu berdoa dan memohon ampunan kepada Allah, mengakui bahwa hanya Dia-lah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Melalui kisah perjalanan suci, teguran keras, dan pilar-pilar etika, Surah Al-Isra tetap menjadi sumber cahaya dan panduan esensial bagi umat Islam hingga akhir zaman.