Kisah Perjalanan Malam Rasulullah SAW: Al-Isra Wal Mi'raj

Ilustrasi perjalanan malam dan langit Gambar sederhana langit malam, bulan sabit, dan siluet masjid atau kubah sebagai representasi perjalanan Isra.

Teks Ayat Al-Isra (Al-Isrā’): Ayat 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1) Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-MasjidilAqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.

Permulaan Sebuah Mukjizat Agung

Ayat pertama dari Surah Al-Isra (atau sering juga disebut Bani Israil) membuka lembaran sejarah kenabian dengan salah satu peristiwa paling luar biasa dalam Islam: Isra' Mi'raj. Ayat ini singkat namun padat makna, menegaskan keagungan dan kekuasaan Allah SWT. Kata pembuka, "Subhanallah" (Mahasuci Allah), langsung menetapkan nada ketidakmungkinan peristiwa ini terjadi kecuali atas kehendak Ilahi. Ia adalah penegasan awal bahwa perjalanan ini melampaui batas logika dan kemampuan manusia biasa.

Perjalanan yang dimaksud adalah Isra, yaitu perjalanan malam Rasulullah Muhammad SAW dari Masjidilharam di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Periode waktu yang sangat singkat—hanya dalam satu malam—menyoroti kecepatan supranatural yang diberikan Allah. Dalam konteks modern, menempuh jarak tersebut secara konvensional membutuhkan waktu berminggu-minggu, namun di sini, Allah menegaskan bahwa bagi-Nya, jarak dan waktu adalah ciptaan yang tunduk pada kehendak-Nya.

Signifikansi Masjidil Aqsa

Penting untuk dicatat tujuan pertama dari perjalanan ini: Al-Masjidil Aqsa. Ini bukan sekadar pemberhentian transit, melainkan titik penting kedua dalam sejarah Islam. Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam sebelum Ka'bah ditetapkan sebagai kiblat utama. Ayat ini secara eksplisit menyebutkan bahwa daerah sekeliling Masjidil Aqsa telah "Kami berkahi". Berkah di sini mencakup berkah spiritual, kenabian (tempat banyak nabi diutus dan dimakamkan), serta berkah alamiah.

Kehadiran Rasulullah di sana menjadi penanda kesinambungan risalah kenabian. Beliau bertemu dengan para nabi terdahulu dan memimpin mereka dalam salat, sebuah simbol bahwa beliau adalah penutup dan penyempurna semua ajaran yang dibawa oleh para rasul sebelumnya. Peristiwa ini memperkuat kedudukan Yerusalem sebagai pusat spiritualitas penting dalam Islam.

Tujuan Akhir: Melihat Tanda Kebesaran Allah

Tujuan utama dari Isra’ ini dijelaskan dengan jelas: "Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami." Perjalanan ini, yang kemudian dilanjutkan dengan Mi'raj ke langit (sidratul muntaha), adalah sebuah wahyu visual dan pengalaman batin yang tak tertandingi.

Tanda-tanda yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW berfungsi sebagai penguatan iman beliau, terutama setelah beliau mengalami tahun-tahun kesedihan (Amul Huzn) di Mekkah. Melihat langsung keagungan alam semesta, tingkatan-tingkatan surga dan neraka, serta berinteraksi langsung dengan pencipta alam semesta adalah bentuk dukungan moral tertinggi dari Allah. Pengalaman ini memberikan beliau bekal spiritual yang kokoh untuk melanjutkan dakwah yang semakin berat di hadapan kaum Quraisy yang menolaknya.

Ayat ditutup dengan dua sifat mulia Allah: "Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." Ini menegaskan bahwa seluruh peristiwa agung ini, termasuk doa-doa Nabi, bisikan hati kaum Mukminin, dan seluruh dinamika alam semesta, berada dalam pengawasan penuh-Nya. Tidak ada satu pun yang luput dari pendengaran dan pandangan Allah SWT. Dengan demikian, ayat 1 Surah Al-Isra menjadi pondasi bagi kisah perjalanan malam yang penuh keajaiban dan hikmah mendalam.

🏠 Homepage