Tafsir dan Hikmah QS. Al-Isra Ayat 109

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ۩
*Wa yakhirrūna liz-aqāni yabkūna wa yazīdūhum khushūʿā(n).*
Dan mereka menyungkurkan muka sambil menangis, dan (Al-Qur'an) itu menambah mereka tunduk (rendah hati). (QS. Al-Isra: 109)

Konteks Penurunan Ayat

Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat ke-109 ini merupakan ayat penutup dari serangkaian ayat yang membahas tentang kebenaran Al-Qur'an dan bagaimana respon seharusnya manusia terhadap wahyu yang diturunkan Allah SWT. Ayat ini secara spesifik menggambarkan reaksi spontan dan tulus dari mereka yang benar-benar memahami kedalaman dan keagungan firman Allah.

Ayat ini sering dikaitkan dengan mereka yang memiliki hati yang lembut, yang ketika mendengarkan lantunan ayat suci, khususnya yang mengandung janji dan ancaman, atau yang menggambarkan kebesaran Allah, tidak mampu menahan air mata penyesalan atau kekaguman. Ini adalah manifestasi nyata dari keimanan yang mendalam, bukan sekadar pemahaman intelektual semata.

Khusyu' & Tangisan Kebenaran

Visualisasi Kekhusyukan Saat Mendengar Wahyu.

Makna "Menyungkurkan Muka" dan Tangisan

Frasa Arab "Yakhirrūna liz-aqāni" (menyungkurkan muka hingga ke dahi) adalah isyarat puncak kerendahan hati dan ketundukan. Dalam konteks budaya Arab kuno, menjatuhkan diri atau menyungkurkan wajah adalah tanda pengakuan atas otoritas yang jauh lebih tinggi. Ketika diterapkan pada konteks ilahi, ini menunjukkan pengakuan total atas kebenaran mutlak yang dibawa oleh Al-Qur'an.

Tangisan yang menyertai tindakan ini ('yabkūn') bukan sekadar tangisan emosional sesaat, tetapi merupakan hasil dari perenungan yang mendalam. Mereka menangis karena sadar akan kebesaran Allah, kekurangannya diri sendiri, atau mungkin karena rasa syukur yang melimpah atas petunjuk yang telah diberikan. Tangisan ini adalah bukti keaslian iman yang menembus hati.

Peningkatan Kekhusyukan

Puncak dari ayat ini adalah kesimpulan: "Wa yazīdūhum khushūʿā(n)" (dan (Al-Qur'an) itu menambah mereka tunduk/rendah hati). Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an bukan hanya dibaca atau dihafal, tetapi memiliki kekuatan transformatif yang terus menerus meningkatkan kualitas spiritual pembacanya. Setiap kali mereka kembali membaca atau mendengarkan ayat, rasa hormat, takut, dan cinta mereka kepada Allah semakin bertambah.

Kekhusyukan yang dimaksud di sini adalah kondisi hati yang terpusat, tenang, dan penuh penghormatan kepada Allah SWT. Berbeda dengan kekhusyukan yang mungkin dicapai melalui ritual tertentu, kekhusyukan dari ayat ini datang sebagai bonus alami dari pemahaman dan penerimaan terhadap wahyu. Semakin sering mereka berinteraksi dengan Al-Qur'an, semakin tunduk dan merendah hati mereka di hadapan Sang Pencipta. Ayat ini memberikan motivasi bagi umat Islam untuk tidak hanya membaca Al-Qur'an secara rutin, tetapi juga merenungkan maknanya agar kekhusyukan senantiasa meningkat.

Relevansi Kontemporer

Di era modern yang penuh distraksi, QS. Al-Isra ayat 109 menjadi pengingat bahwa tujuan utama interaksi kita dengan Al-Qur'an bukanlah sekadar menyelesaikan target hafalan atau bacaan harian. Tujuan sesungguhnya adalah mencapai transformasi batin. Apakah kita membaca dengan hati yang menyungkurkan ego kita? Apakah bacaan kita menghasilkan air mata kesadaran atau justru membuat kita semakin keras hati?

Ayat ini mengajarkan bahwa respons ideal terhadap kebenaran ilahi adalah respons yang melibatkan fisik (bersujud/menunduk), emosional (menangis karena kesadaran), dan spiritual (peningkatan rasa takut dan hormat kepada Allah). Merenungkan ayat ini membantu membersihkan hati dari kesombongan dan menempatkan posisi manusia pada tempatnya yang sebenarnya, yaitu sebagai hamba yang hina di hadapan keagungan Ilahi.

🏠 Homepage