Perintah Kerendahan Hati: Surah Al-Isra Ayat 24
Dalam Al-Qur'an, terdapat banyak sekali petunjuk mengenai etika sosial dan hubungan vertikal (dengan Allah) maupun horizontal (dengan sesama manusia). Salah satu ayat yang sangat lugas dan mendalam mengenai etika berinteraksi, terutama dengan orang tua, adalah Surah Al-Isra ayat ke-24.
Ayat ini menekankan pentingnya bersikap rendah hati, penuh kasih sayang, dan penuh hormat kepada kedua orang tua setelah perintah tauhid (mengesakan Allah SWT) dan larangan syirik dalam ayat-ayat sebelumnya. Ayat ini adalah landasan moral yang fundamental dalam Islam.
Gambar di atas merepresentasikan hubungan antara anak dan orang tua yang harus didasari oleh rasa hormat dan kasih sayang yang mendalam.
Teks dan Terjemahan Al-Isra Ayat 24
Makna Mendalam Ayat Kerendahan Hati
Ayat ini secara eksplisit memerintahkan umat Islam untuk bersikap 'akhfid' (merendahkan), namun kerendahan ini bukanlah kerendahan kehinaan atau penyerahan total, melainkan kerendahan yang lahir dari rahmat dan kasih sayang.
1. Merendahkan Sayap Kerendahan Hati (Janaah Adz-Zull)
Frasa "merendahkan dirimu terhadap keduanya" (Akhfid lahuma janaahadz-zull) menggunakan metafora "sayap" (janaah). Dalam konteks budaya Arab, merendahkan sayap adalah perilaku burung induk yang melindungi anaknya di bawah sayapnya, menunjukkan kelembutan, perlindungan, dan tunduk pada otoritas yang lebih tua. Dalam konteks manusia, ini berarti:
- Tidak menunjukkan kesombongan atau sikap meremehkan ketika berinteraksi dengan orang tua.
- Menghindari meninggikan suara atau menggunakan nada bicara yang kasar.
- Menyambut perintah atau nasihat mereka dengan lapang dada, sebisa mungkin tanpa membantah secara emosional.
Penting dicatat bahwa kerendahan ini didorong oleh 'minar rahmah' (karena rasa kasih sayang). Sikap hormat ini bukan hanya kewajiban formal, tetapi harus bersumber dari hati yang penuh cinta kasih, terutama mengingat pengorbanan mereka saat membesarkan kita di waktu kita lemah dan tak berdaya.
2. Doa Sebagai Bentuk Ketundukan Abadi
Bagian kedua ayat ini adalah penegasan komitmen abadi: "Dan ucapkanlah, 'Ya Tuhanku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil.'"
Ayat ini mengajarkan bahwa pengabdian kepada orang tua tidak berakhir saat mereka sudah tua atau bahkan setelah mereka meninggal dunia. Doa adalah puncak penghormatan spiritual. Kita mengakui bahwa kasih sayang mereka di masa kecil bersifat total dan tanpa syarat; oleh karena itu, balasan doa kita pun harus total, memohonkan rahmat Tuhan kepada mereka setimpal dengan jasa mereka yang tak terhingga.
Kontras dengan Perilaku Modern
Di era modern, di mana nilai individualisme seringkali mendominasi, perintah ini menjadi pengingat kuat. Tekanan pekerjaan, jarak geografis, dan perbedaan pandangan seringkali menjadi alasan munculnya jarak emosional dengan orang tua. Surah Al-Isra ayat 24 menuntut kita untuk secara aktif menjaga kelembutan hati tersebut. Kerendahan hati ini adalah kunci keberkahan, karena penghormatan terhadap orang tua merupakan salah satu jembatan utama menuju keridhaan Allah SWT.
Dengan melaksanakan perintah ini—bersikap lembut, tidak membantah dengan kasar, dan senantiasa mendoakan—kita tidak hanya menunaikan hak mereka, tetapi juga menanam benih kebaikan untuk generasi kita di masa depan, sebagaimana mereka telah menanamkan kebaikan untuk kita di masa kecil.