"Dan tidak ada yang menghalangi manusia untuk beriman, tatkala petunjuk itu datang kepada mereka, dan memohon ampun kepada Tuhan mereka, kecuali (penantian mereka) datangnya hukum (siksaan) yang telah ditetapkan bagi orang-orang dahulu, atau (penantian mereka) datangnya azab secara berhadapan." (QS. Al-Isra: 94)
Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Surah Bani Israil, adalah surah Makkiyah yang kaya akan kisah kenabian, hukum-hukum, dan peringatan-peringatan ilahi. Ayat ke-94 ini secara spesifik menyoroti fenomena penolakan manusia terhadap kebenaran (hidayah) yang dibawa oleh para rasul, khususnya dalam konteks kerasulan Nabi Muhammad SAW.
Makna inti dari ayat ini adalah sebuah ironi. Ketika kebenaran dan petunjuk (Al-Huda) yang jernih telah disajikan, seharusnya manusia segera merespons dengan iman dan penyesalan (istighfar). Namun, yang terjadi justru adalah penundaan, penolakan, dan kesombongan.
Allah SWT melalui ayat ini menjelaskan dua hal utama yang menjadi penghalang bagi kaum musyrik (atau orang-orang yang mengingkari) untuk segera menerima iman dan memohon ampunan:
Ayat 94 Al-Isra menegaskan bahwa status manusia adalah makhluk yang membutuhkan bimbingan. Ketika bimbingan (hidayah) itu sudah ada, tidak ada alasan logis untuk menundanya. Penundaan iman sama saja dengan menantang mekanisme peringatan ilahi. Islam mengajarkan bahwa pintu taubat selalu terbuka, tetapi jika taubat itu disyaratkan dengan datangnya azab, maka peluang itu telah hilang.
Dalam konteks modern, ayat ini dapat dipahami sebagai peringatan keras terhadap sikap apatis atau menunda-nunda urusan spiritual dan perbaikan diri. Mengabaikan seruan kebaikan yang jelas-jelas hadir adalah tindakan yang ditentang oleh hikmah Al-Qur'an. Mengapa harus menunggu hingga bencana atau krisis datang (azab) baru kita mau memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan memohon ampunan?
Kisah penolakan ini bukan hanya terjadi pada kaum Quraisy di masa Nabi Muhammad SAW, tetapi merupakan pola perilaku historis yang berulang. Setiap rasul membawa bukti-bukti yang jelas dan ajakan yang logis untuk meninggalkan penyimpangan. Namun, keangkuhan, kepentingan materi, dan rasa superioritas seringkali menjadi "tirai" yang menghalangi mata hati mereka.
Tantangan terhadap Nabi Muhammad SAW sering kali berbentuk permintaan mukjizat yang mustahil (seperti meminta gunung untuk berubah menjadi emas atau membelah bumi), padahal mukjizat terbesar adalah Al-Qur'an itu sendiri. Permintaan semacam ini adalah bentuk 'menunggu sunnah awal'—menunggu azab pemusnahan—sebagai ganti dari mengakui kebenaran yang disampaikan secara lisan dan tertulis.
Ayat ini menjadi pengingat abadi bahwa Allah memberikan kesempatan melalui hidayah dan akal. Memanfaatkan kesempatan ini dengan beriman dan beristighfar adalah tindakan kebijaksanaan tertinggi. Menunggu bukti berupa malapetaka adalah puncak kebodohan spiritual. Dengan demikian, Al-Isra ayat 94 adalah seruan untuk bertindak cepat sebelum 'pintu kesempatan' itu tertutup rapat oleh datangnya siksa yang tak terhindarkan.