Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Al-Ma'idah ayat 8 adalah salah satu ayat fundamental dalam Islam yang secara tegas memerintahkan umat Muslim untuk selalu teguh memegang prinsip keadilan, terlepas dari segala pengaruh emosional atau permusuhan pribadi. Ayat ini dimulai dengan panggilan yang mulia: "Wahai orang-orang yang beriman!" Ini menandakan bahwa perintah yang mengikuti adalah inti dari keimanan itu sendiri.
Perintah utamanya adalah menjadi "penegak keadilan karena Allah" (قَوَّامِينَ لِلَّهِ). Kata "قَوَّامِينَ" (qawwāmīn) menunjukkan posisi yang sangat teguh, berdiri tegak, dan konsisten dalam menegakkan sesuatu. Ini bukan sekadar bersikap adil ketika menguntungkan, melainkan menjadikan keadilan sebagai orientasi hidup yang didasarkan semata-mata karena ketaatan kepada Allah SWT. Tugas ini diperkuat dengan kewajiban menjadi "saksi dengan adil" (شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ), bahkan ketika kesaksian itu mungkin merugikan diri sendiri atau kelompoknya.
Pesan krusial kedua datang dalam bentuk peringatan keras: "Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil." Dalam konteks historis, ayat ini sering ditujukan kepada Bani Israil atau kelompok manapun yang memiliki permusuhan. Namun, maknanya universal. Islam mengajarkan bahwa prinsip keadilan harus melampaui sentimen kebencian, dendam, atau afiliasi kelompok. Musuh sekalipun harus diperlakukan secara adil sesuai dengan fakta dan hukum yang berlaku. Ketidakadilan yang didasari kebencian (kezaliman) adalah dosa besar.
Ayat ini kemudian memberikan alasan logis mengapa keadilan itu penting: "Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa." Keadilan dan takwa (kesadaran akan pengawasan Tuhan) adalah dua sisi mata uang yang sama. Tidak mungkin seseorang mencapai tingkat ketakwaan yang tinggi jika ia secara konsisten menzalimi orang lain atau melanggar keadilan. Keadilan adalah manifestasi lahiriah dari hati yang bertakwa.
Penutup ayat menegaskan otoritas ilahi: "Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Pengetahuan Allah yang meliputi segala perbuatan, niat tersembunyi, dan ketidakadilan yang dilakukan dalam sunyi, menjadi pengingat terakhir bagi setiap mukmin bahwa tidak ada satu pun tindakan yang luput dari pengawasan-Nya. Oleh karena itu, kepatuhan total terhadap perintah keadilan ini adalah bentuk tertinggi dari pertanggungjawaban kepada Sang Pencipta. Ayat ini mengajarkan etika sosial yang ideal, menuntut integritas moral yang tinggi dalam interaksi antarmanusia.