Kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah sumber inspirasi tak terbatas bagi umat Islam di seluruh dunia. Namun, sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, kepribadian beliau telah ditempa oleh lingkungan dan takdir menjadi contoh teladan. Akhlak beliau sejak masa kanak-kanak dan remaja merupakan cerminan awal dari kesempurnaan karakter yang kelak akan menjadi rahmat bagi semesta alam. Memahami akhlak beliau sejak dini membantu kita melihat bagaimana pondasi moral yang kuat dibangun.
1. Kejujuran yang Tak Tercela (Ash-Shiddiq)
Bahkan sebelum diangkat menjadi Rasul, julukan yang paling melekat pada diri Muhammad muda adalah "Al-Amin" (yang terpercaya) dan "Ash-Shiddiq" (yang jujur). Kejujuran ini bukanlah hal yang dipaksakan, melainkan tumbuh alami dari hatinya. Sejak kecil, beliau dikenal tidak pernah berbohong, bahkan dalam urusan sepele. Dalam lingkungan masyarakat Mekkah yang saat itu seringkali tenggelam dalam perselisihan dan tipu daya perdagangan, konsistensi beliau dalam berkata benar menjadikannya figur yang dihormati, bahkan oleh mereka yang menentangnya di kemudian hari.
Sifat jujur ini terwujud dalam setiap interaksinya. Ketika beliau dipercayakan untuk menjaga barang dagangan, beliau melakukannya dengan integritas penuh. Ketika ditanya mengenai suatu hal, jawabannya selalu lugas dan sesuai fakta. Inilah cikal bakal utama yang mempersiapkan beliau menerima wahyu, sebab kejujuran adalah prasyarat fundamental bagi seorang pembawa kebenaran.
2. Amanah Sejak Dini
Sejalan dengan kejujuran adalah sifat amanah. Sebagai seorang yatim piatu yang diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, dan kemudian pamannya, Abu Thalib, Muhammad kecil diajarkan tanggung jawab. Beliau sering diminta menjaga ternak, sebuah tugas yang dianggap biasa namun membutuhkan pengawasan ketat. Beliau melaksanakannya dengan sungguh-sungguh.
Puncaknya, ketika beliau mulai ikut berdagang bersama pamannya, keamanahan beliau terbukti nyata. Para pedagang Quraisy menitipkan harta mereka kepada Muhammad muda karena mereka yakin hartanya tidak akan kurang sedikit pun, dan sumpahnya selalu bisa dipercaya. Kemampuan mengemban amanah ini menegaskan bahwa karakter beliau sudah terbentuk sempurna sebelum beliau mengenal ajaran Islam formal.
3. Rasa Hormat dan Bakti kepada Keluarga
Akhlak mulia juga tercermin dalam hubungan beliau dengan keluarga. Setelah wafatnya sang ayah sebelum beliau lahir, dan ibunda Aminah saat beliau berusia enam tahun, Muhammad kecil hidup di bawah asuhan kakek tercinta. Beliau menunjukkan bakti yang mendalam kepada Abdul Muthalib. Ketika kakeknya meninggal, kepedihan beliau sangat besar, dan beliau segera beralih di bawah perlindungan Abu Thalib.
Kepada Abu Thalib dan Khadijah (istrinya kelak), beliau selalu menunjukkan penghormatan tertinggi. Sikap hormat ini bukan sekadar formalitas sosial, melainkan manifestasi dari rasa terima kasih dan pengakuan atas peran mereka dalam membesarkannya di tengah kerasnya kehidupan Mekkah. Kelembutan dan kesopanan beliau selalu menyertai interaksi dengan orang yang lebih tua.
4. Ketulusan dan Kelembutan Hati (Rahmatan Lil 'Alamin)
Sifat penyayang Nabi Muhammad SAW telah tampak sejak kecil. Berbeda dengan anak-anak lain yang mungkin bersikap kasar terhadap hewan, Nabi Muhammad SAW menunjukkan kelembutan luar biasa terhadap makhluk hidup. Riwayat menyebutkan bahwa beliau sangat berhati-hati dalam setiap tindakannya, memastikan tidak ada pihak, sekecil apa pun, yang merasa tersakiti oleh perilakunya.
Sikap ini kemudian berkembang menjadi fondasi kenabiannya: menjadi rahmat bagi seluruh alam. Beliau tumbuh menjadi pribadi yang jauh dari kesombongan, rendah hati dalam pergaulan, dan selalu siap membantu mereka yang lemah. Ketika beliau menggembala kambing, beliau melakukannya dengan sabar. Ketika bergaul dengan teman sebaya, beliau selalu mengutamakan keadilan dan tidak pernah menggunakan kekuatannya untuk menindas.
5. Menjauhi Perbuatan Tercela Masyarakat Jahiliyah
Salah satu bukti kematangan akhlak beliau adalah kesiapan beliau untuk menjauhi kebiasaan buruk yang lazim dilakukan masyarakat Mekkah saat itu. Beliau tidak pernah tertarik pada perbuatan sia-sia, minum khamr (minuman keras), berjudi, atau menghadiri perayaan-perayaan yang mengandung unsur kemaksiatan. Beliau menjaga kesucian dirinya dari segala praktik yang bertentangan dengan fitrah suci yang telah Allah tanamkan dalam dirinya.
Bahkan, tercatat bahwa beliau pernah menolak tawaran untuk terlibat dalam ritual kesyirikan di Ka'bah, menunjukkan keteguhan prinsip yang luar biasa bahkan ketika belum menerima wahyu. Ini membuktikan bahwa akhlak Nabi Muhammad SAW sejak kecil adalah hasil dari bimbingan ilahi yang mempersiapkan beliau untuk memimpin umat manusia menuju jalan yang lurus. Integritas moral yang dibangun dari masa kecil inilah yang menjadikannya teladan paripurna hingga akhir hayatnya.