Akhlak, dalam terminologi Islam, merujuk pada karakter, moralitas, atau budi pekerti seseorang. Ini adalah manifestasi nyata dari keimanan dan pemahaman seseorang terhadap ajaran agama. Pembahasan mengenai akhlak sangat fundamental karena Islam menempatkan penyempurnaan karakter sebagai salah satu tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad SAW. Untuk memudahkan pemahaman dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, para ulama membagi akhlak ke dalam beberapa kategori utama.
Secara garis besar, pembagian akhlak yang paling sering dirujuk adalah berdasarkan objek atau penerima perbuatan tersebut. Pembagian ini membantu seorang Muslim mengidentifikasi lingkup tanggung jawab moralnya.
Ini adalah tingkatan akhlak yang paling tinggi dan mendasar. Segala perbuatan, niat, dan ketaatan seorang hamba harus ditujukan semata-mata karena ketaatan dan kecintaan kepada Sang Pencipta. Akhlak dalam kategori ini mencakup:
Setelah hak Allah, hak Rasulullah SAW menempati posisi kedua yang krusial. Memiliki akhlak yang baik kepada Nabi berarti memuliakan, mengikuti sunnahnya, dan mencintainya melebihi diri sendiri. Ini diwujudkan melalui:
Akhlak kepada sesama manusia mencakup interaksi sosial yang luas dan menjadi tolok ukur utama di mata manusia lain. Islam menekankan pentingnya memperlakukan sesama dengan adil dan kasih sayang.
Pembagian ini sering diperluas lagi menjadi:
Moralitas seorang Muslim tidak berhenti pada sesama manusia, tetapi meluas hingga mencakup seluruh ciptaan Allah. Ini adalah cerminan dari konsep rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi seluruh alam).
Hal ini mencakup:
Selain pembagian berdasarkan objek, akhlak juga diklasifikasikan berdasarkan kualitasnya. Klasifikasi ini bersifat dikotomis (dua kutub) dan sangat penting untuk evaluasi diri (muhasabah).
Ini adalah sifat-sifat terpuji yang didorong oleh syariat, seperti sabar, syukur, ikhlas, jujur, amanah, tawadhu (rendah hati), dan kasih sayang. Sifat-sifat ini mendekatkan seorang hamba kepada Allah dan meningkatkan kualitas sosialnya.
Ini adalah sifat-sifat buruk yang harus dijauhi karena merusak hubungan dengan Tuhan dan sesama, seperti sombong (kibr), riya (pamer), dengki (hasad), kikir, pemarah, dan dusta. Menghilangkan sifat-sifat ini adalah jihad akbar (perjuangan terbesar).
Memahami pembagian akhlak ini memberikan kerangka kerja yang jelas bagi umat Islam. Setiap tindakan—mulai dari niat di hati yang berhubungan dengan Allah, hingga perbuatan nyata terhadap tetangga dan lingkungan—semuanya terstruktur di bawah payung moralitas Islam. Penekanan pada perbaikan akhlak secara berkelanjutan memastikan bahwa seorang Muslim bukan hanya rajin beribadah ritual, tetapi juga menjadi individu yang bermanfaat dan memberikan dampak positif bagi semesta.