Kesehatan reproduksi pria sering kali dinilai melalui analisis air mani, atau yang lebih dikenal sebagai analisis sperma. Parameter kunci dalam analisis ini adalah menentukan apakah spesimen mengandung sperma normal. Memahami apa yang dianggap normal sangat penting, baik untuk pasangan yang sedang merencanakan kehamilan maupun untuk skrining kesehatan reproduksi secara umum.
Analisis sperma adalah prosedur laboratorium untuk mengevaluasi tiga komponen utama air mani: volume, konsentrasi (jumlah sperma), dan motilitas (pergerakan sperma), serta morfologi (bentuk) sperma. Hasil dari analisis ini memberikan gambaran komprehensif mengenai potensi kesuburan pria.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara berkala memperbarui pedoman untuk menentukan parameter normal dalam analisis air mani. Kriteria ini sangat penting karena menetapkan batas bawah (nilai persentil ke-5) dari populasi pria yang subur. Berikut adalah beberapa kriteria utama untuk sperma normal (berdasarkan pedoman terbaru):
Meskipun volume dan motilitas adalah faktor penting, morfologi sering menjadi penentu utama keberhasilan pembuahan. Sperma dengan bentuk normal memiliki peluang terbaik untuk berhasil menembus lapisan pelindung sel telur (zona pelusida) dan membuahi ovum. Sperma yang tidak normal mungkin memiliki kepala yang terlalu besar/kecil, leher yang bengkok, atau ekor yang terputus atau melengkung. Bentuk yang tidak teratur ini seringkali menghambat kemampuan mereka untuk berenang secara efisien menuju saluran tuba falopi.
Kualitas dan kuantitas sperma normal tidak statis; ia dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor gaya hidup dan lingkungan. Produksi sperma membutuhkan waktu sekitar 74 hari, sehingga perubahan gaya hidup hari ini akan memengaruhi kualitas sperma dalam waktu dua hingga tiga bulan ke depan.
Faktor-faktor yang dapat merusak profil sperma meliputi:
Bagi pria yang hasil analisis spermanya menunjukkan kualitas di bawah standar normal, perubahan gaya hidup seringkali menjadi langkah pertama yang disarankan. Fokus utama adalah menciptakan lingkungan optimal bagi testis untuk memproduksi sel sperma sehat.
Selain menjaga berat badan ideal dan menghindari zat toksik, diet seimbang yang kaya antioksidan sangat dianjurkan. Suplemen tertentu, di bawah pengawasan medis, seperti L-Carnitine dan Koenzim Q10, juga telah diteliti karena potensi mereka dalam meningkatkan motilitas sperma. Penting untuk diingat bahwa perbaikan kualitas sperma memerlukan waktu dan konsistensi dalam menerapkan perubahan gaya hidup tersebut.