Menggali Keagungan Isra' Mi'raj

Pengantar Kalimat Agung

Di antara lafal zikir dan pujian tertinggi dalam Islam, terdapat ungkapan yang sarat makna spiritual mendalam, yaitu kalimat: Subhanalladzi Asro Biabdihi. Kalimat ini merupakan pembuka sebuah peristiwa monumental yang menjadi tiang penyangga spiritual umat Muslim sedunia: perjalanan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW.

Secara harfiah, terjemahan dari frasa ini adalah, "Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya." Penggunaan kata "Subhan" menunjukkan penyanjungan total dan pengakuan atas keunikan serta kesempurnaan Allah SWT yang mampu melakukan hal luar biasa di luar nalar manusia biasa. Kata "biabdihi" (dengan hamba-Nya) menekankan status Nabi Muhammad SAW sebagai hamba pilihan di tengah keagungan peristiwa tersebut.

Prophet

Ilustrasi Konseptual Perjalanan Malam

Konteks Perjalanan Isra' Mi'raj

Peristiwa yang diawali dengan kalimat Subhanalladzi Asro Biabdihi adalah mukjizat yang memisahkan kenabian Muhammad SAW dari rentetan kenabian sebelumnya. Isra' adalah perjalanan malam dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Mi'raj adalah kelanjutan perjalanan spiritual tersebut, di mana Nabi diangkat melintasi tujuh lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha, tempat yang tak pernah dijamah oleh malaikat terdekat sekalipun.

Keajaiban ini terjadi pada masa-masa tersulit dalam dakwah Nabi, setelah kehilangan dua pendukung utamanya: istri tercinta Khadijah RA dan pamannya Abu Thalib. Perjalanan ini bukan sekadar tamasya fisik, melainkan sebuah penguatan ilahi, penegasan status beliau sebagai Rasul, dan pemberian pedoman hidup baru: salat lima waktu.

Kedalaman Makna "Hamba-Nya" (Biabdihi)

Mengapa Allah SWT memilih menggunakan frasa "hamba-Nya" (Abdihi) alih-alih menyebut nama atau gelar kenabian? Para ulama tafsir menjelaskan bahwa penekanan pada status perhambaan ini mengandung hikmah mendalam. Pertama, menunjukkan kerendahan hati beliau di hadapan Sang Pencipta, walau sedang menerima kemuliaan tertinggi. Kedua, menegaskan bahwa semua keajaiban yang terjadi adalah murni atas izin dan kuasa Allah, bukan kekuatan pribadi Nabi.

Kalimat Subhanalladzi Asro Biabdihi mengajarkan bahwa puncak tertinggi manusia adalah menjadi hamba yang patuh dan tunduk sepenuhnya kepada kehendak Ilahi. Kemuliaan sejati tidak datang dari kekuasaan duniawi, melainkan dari kedekatan spiritual. Kisah ini menjadi pondasi bahwa bahkan ketika seorang hamba ditinggikan derajatnya, esensi keberadaannya tetaplah sebagai makhluk yang bergantung penuh kepada Sang Khaliq.

Perjalanan ini membuktikan kapasitas spiritual manusia yang, jika dibimbing oleh wahyu, dapat mencapai dimensi yang melampaui batas-batas fisik yang dipahami oleh sains. Ini adalah manifestasi rahmat Allah yang luar biasa, sebuah penguatan bagi Nabi untuk melanjutkan risalah di tengah tantangan kaum Quraisy.

Implikasi Spiritual dan Zikir

Pengulangan frasa yang mirip dengan awal kisah Isra' Mi'raj ini dalam zikir harian memiliki tujuan menenangkan jiwa dan mengingatkan kita akan kebesaran Allah. Ketika seseorang mengucapkan Subhanalladzi Asro Biabdihi, ia sedang mengakui bahwa Allah mampu melakukan segala sesuatu, dan kitalah yang diperjalankan atau diatur oleh kehendak-Nya.

Peristiwa ini menegaskan bahwa spiritualitas Islam mencakup dimensi kosmik. Nabi SAW tidak hanya menjadi pemimpin di bumi, tetapi juga "dijamu" oleh alam semesta yang tunduk pada Sang Pencipta. Hal ini mendorong setiap Muslim untuk melihat kebesaran Allah tidak hanya dalam skala kecil kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam skala alam semesta yang luas. Keagungan peristiwa Isra' Mi'raj adalah bukti nyata bahwa wahyu ilahi tidak mengenal batasan ruang dan waktu.

Oleh karena itu, setiap kali kita merenungkan kalimat pembuka ini, kita diingatkan untuk membersihkan hati (tasbih), mengakui keagungan Allah, dan meneladani kesempurnaan perhambaan Nabi Muhammad SAW dalam setiap langkah kehidupan kita. Perjalanan beliau adalah peta jalan menuju kedekatan sejati dengan Yang Maha Kuasa.

🏠 Homepage