Sulaiman bin Abdul Malik adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Kekhalifahan Bani Umayyah. Ia memerintah sebagai khalifah kelima dari dinasti Umayyah di Damaskus, melanjutkan estafet kepemimpinan dari saudaranya, Al-Walid bin Abdul Malik. Masa pemerintahannya sering kali dicirikan oleh periode stabilitas, perluasan wilayah yang strategis, serta munculnya benih-benih perubahan yang pada akhirnya akan membawa pada keruntuhan dinasti tersebut beberapa waktu kemudian.
Latar Belakang dan Pengangkatan
Sulaiman lahir dari Abdul Malik bin Marwan, khalifah besar yang meletakkan fondasi kuat bagi Kekhalifahan Umayyah. Meskipun bukan merupakan penerus alami yang diunggulkan pada awalnya, Sulaiman menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang berbeda dibandingkan pendahulunya yang cenderung fokus pada ekspansi militer besar-besaran. Sebelum menjadi khalifah, ia dikenal memiliki kecerdasan dan pandangan yang cukup tajam terhadap urusan administratif.
Pengangkatannya sebagai khalifah datang setelah wafatnya Al-Walid I. Masa pemerintahannya dimulai dengan prioritas pada konsolidasi internal dan pembaruan administratif daripada penaklukan baru yang masif, meskipun operasi militer tetap berjalan di beberapa front penting, terutama di Anatolia dan arah Afrika Utara.
Kebijakan Domestik dan Reformasi
Salah satu warisan terpenting Sulaiman adalah fokusnya pada infrastruktur dan reformasi fiskal. Ia melanjutkan proyek-proyek pembangunan yang telah dirintis oleh Al-Walid, termasuk perluasan Masjid Agung Damaskus. Namun, Sulaiman lebih dikenal karena pendekatannya yang lebih hati-hati dalam hal keuangan negara. Ia menyadari bahwa kebijakan ekspansi yang serampangan dapat menguras kas negara jika tidak diimbangi dengan administrasi yang baik.
Selain itu, Sulaiman dikenal karena kesalehannya yang relatif lebih menonjol dibandingkan beberapa khalifah Umayyah sebelumnya. Ia menunjukkan perhatian lebih besar terhadap urusan agama dan sering berkonsultasi dengan ulama terkemuka pada masanya. Reformasi ini penting untuk meredakan ketegangan internal antara elit penguasa di Damaskus dan populasi Muslim non-Arab yang semakin membesar.
Ekspedisi Militer yang Berdampak
Meskipun fokusnya lebih administratif, Sulaiman bin Abdul Malik tetap seorang pemimpin yang mempertahankan kekuatan militer Umayyah. Di bawah kepemimpinannya, upaya besar diarahkan untuk menaklukkan wilayah Bizantium di Timur. Kampanye militer besar-besaran dilancarkan menuju Konstantinopel (Istanbul) yang merupakan jantung kekuasaan Romawi Timur.
Penyerangan ke Konstantinopel di bawah Sulaiman merupakan salah satu upaya paling serius Umayyah untuk menaklukkan kota tersebut. Meskipun pasukan Muslim mencapai tembok kota, pengepungan tersebut gagal total. Kegagalan ini menunjukkan batasan geografis dan logistik ekspansi kekhalifahan saat itu, sekaligus menandai titik balik di mana ekspansi darat besar-besaran ke Anatolia mulai menemukan hambatan signifikan.
Transisi Kepemimpinan dan Akhir Pemerintahan
Akhir dari masa kekhalifahan Sulaiman juga menandai pentingnya suksesi dalam politik Umayyah. Sulaiman bin Abdul Malik dikenal karena menunjuk penggantinya dengan hati-hati, sebuah keputusan yang sering kali menimbulkan intrik politik. Ia memilih Umar bin Abdul Aziz, seorang figur yang dihormati karena kesalehan dan integritasnya, untuk menggantikannya, mengesampingkan beberapa kerabatnya yang mungkin lebih ambisius.
Sulaiman bin Abdul Malik wafat, meninggalkan warisan sebagai khalifah yang mencoba menyeimbangkan antara mempertahankan kejayaan militer Umayyah sambil memperbaiki tata kelola internal. Pemerintahannya, meskipun relatif singkat, merupakan periode penting di mana pondasi administrasi yang lebih matang mulai dibangun, meskipun tantangan internal dan eksternal terus membayangi masa depan kekhalifahan tersebut. Ia dikenang sebagai salah satu khalifah yang bijaksana menjelang periode akhir kekuasaan Bani Umayyah.