Kajian Surat Al-Maidah Ayat 44

Ilustrasi Keadilan dan Kitab Suci

Pengantar Ayat

Surat Al-Maidah adalah surat ke-5 dalam susunan mushaf Al-Qur'an, yang berarti 'Hidangan'. Ayat 44 dari surat ini merupakan salah satu ayat kunci yang membahas tentang penetapan hukum (syariat) dan penegasan peran kenabian Muhammad SAW. Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa Allah SWT menurunkan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup dan penegasan bagi kitab-kitab sebelumnya. Pemahaman mendalam terhadap ayat ini sangat penting untuk memahami kedudukan Al-Qur'an dalam konteks hukum Islam dan perbandingan dengan syariat terdahulu.

Teks Surat Al-Maidah Ayat 44

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Terjemahan Ayat

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang terdahulu daripadanya, dan menjadi hakim terhadap kitab-kitab itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti keinginan mereka, dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan syariat dan jalan (agama) yang terang. Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya dijadikan-Nya kamu satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semua akan kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.

Kandungan dan Penjelasan Ayat

1. Al-Qur'an Sebagai Pembenar dan Pengawas

Ayat ini menegaskan status Al-Qur'an sebagai wahyu terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Kata "muṣaddiqan limā bayna yadayhi min al-kitābi" menunjukkan bahwa Al-Qur'an membenarkan kebenaran-kebenaran yang ada dalam Taurat dan Injil, serta kitab-kitab suci sebelumnya. Namun, Al-Qur'an juga bersifat "muhayminan 'alayh", yang berarti pengawas, pengoreksi, atau penjaga. Ini mengindikasikan bahwa Al-Qur'an memuat hukum-hukum yang lebih lengkap dan koreksi terhadap penafsiran atau perubahan yang mungkin terjadi pada kitab-kitab terdahulu.

2. Kewajiban Berhukum dengan Apa yang Diturunkan Allah

Bagian selanjutnya memberikan perintah tegas kepada Nabi Muhammad SAW: "Faḥkum baynahum bimā anzalallāh" (Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah). Ini adalah fondasi utama hukum Islam (syariat). Perintah ini tidak hanya berlaku untuk Nabi Muhammad SAW saat itu, tetapi juga menjadi prinsip abadi bagi umat Islam setelah beliau wafat. Hukum Allah harus menjadi standar utama, dan diperingatkan keras untuk tidak mengikuti hawa nafsu atau adat istiadat yang bertentangan dengan wahyu ilahi: "wa lā tattabi‘ ahwā’ahum ‘ammā jā’aka min al-ḥaqq".

3. Keragaman Syariat dan Tujuan Ujian

Ayat ini juga menjelaskan tentang keberagaman umat manusia dalam menjalankan ibadah dan hukum. Allah SWT menetapkan bagi setiap umat (dulu dan sekarang) syariat dan manhaj (jalan/cara hidup) yang berbeda-beda: "Likullin ja‘alnā minkum syir‘atan wa minhājan". Perbedaan syariat ini menunjukkan keluasan rahmat Allah. Namun, Allah menegaskan bahwa Ia bisa saja menjadikan seluruh umat ini satu kesatuan tanpa perbedaan (dalam hal agama), tetapi Ia memilih untuk menciptakan keragaman agar dapat menguji manusia: "Walaw shā’allāhu laja‘alakum ummatan wāḥidatan walākin liyabluwakum fī mā ātāk" (Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya dijadikan-Nya kamu satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu).

4. Perlombaan dalam Kebaikan

Karena adanya ujian dan perbedaan ini, umat manusia diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqu al-khairāt). Tujuan akhir dari semua ini adalah kepulangan kepada Allah, di mana semua perbedaan dan perselisihan duniawi akan diselesaikan dan dijelaskan secara tuntas: "Ilā Allāhi marji‘ukum jamī‘an fayunabbi’ukum bimā kuntum fīhi takhtalifūn".

Relevansi Kontemporer

Al-Maidah ayat 44 tetap menjadi landasan utama dalam kehidupan seorang Muslim. Ayat ini menekankan pentingnya konsistensi dalam menerapkan hukum Allah di tengah tekanan sosial atau godaan untuk mengikuti tren non-Islami. Prinsip muhayminan (pengawas) Al-Qur'an terhadap kitab-kitab terdahulu mengingatkan kita bahwa sumber hukum Islam adalah final dan harus dipegang teguh, sekaligus mendorong umat untuk tidak berselisih dalam hal-hal yang sudah jelas ketentuannya, melainkan fokus pada perlombaan mencapai kebaikan universal.

🏠 Homepage