Visualisasi kehancuran dan peringatan Peringatan Masa

Merenungi Peringatan: Surah Al-Isra Ayat 5

Setiap ayat dalam Al-Qur'an mengandung hikmah, petunjuk, dan terkadang peringatan keras bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering kali menjadi perenungan mendalam mengenai konsekuensi perbuatan buruk adalah Surah 17 Ayat 5 (Al-Isra: 5). Ayat ini berbicara tentang dua kali kebinasaan yang menimpa Bani Israil akibat pelanggaran mereka terhadap perintah Allah SWT.

Teks dan Terjemahan Surah Al-Isra Ayat 5

وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا
Dan Kami wahyu-kan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini sebanyak dua kali, dan pasti kamu akan melampaui batas dengan kesombongan yang besar."

Makna Mendalam dari Dua Kebinasaan

Ayat ini adalah sebuah "pemberitahuan kenabian" atau ramalan ilahiah yang ditujukan kepada Bani Israil mengenai masa depan mereka di bumi (Yudea dan sekitarnya) setelah mereka menerima Taurat. Allah SWT memberitahukan bahwa mereka akan melakukan dua tindakan destruktif yang berulang kali, yang masing-masing akan mendatangkan konsekuensi kehancuran.

Dua kerusakan tersebut didefinisikan dengan sangat jelas: (1) Membuat kerusakan di bumi (fitnah dan pembunuhan), dan (2) Melampaui batas dengan kesombongan yang besar (taghalluban kabiran).

Kebinasaan Pertama

Para mufasir umumnya sepakat bahwa kerusakan yang pertama terjadi ketika Bani Israil melakukan kemaksiatan dan pembunuhan terhadap para nabi serta menyimpang dari hukum-hukum yang telah ditetapkan dalam Taurat. Akibat dari pelanggaran ini, Allah SWT mengirimkan musuh-musuh dari bangsa lain untuk menghukum mereka. Sejarah mencatat bahwa pada masa Raja Nebukadnezar (raja Babilonia), Baitul Maqdis dihancurkan untuk pertama kalinya, dan banyak dari mereka yang dibuang ke Babel (pembuangan Babilonia).

Ayat ini menekankan sifat berulang dari dosa mereka. Mereka tidak hanya melakukan kesalahan sekali, tetapi sifat kerusakan itu tertanam kuat dalam karakter mereka saat mereka merasa aman dan lupa akan janji Allah. Hukuman yang datang adalah hasil alami dari penyimpangan moral dan spiritual yang mereka lakukan.

Kesombongan yang Besar (Taghalluban Kabiran)

Bagian kedua dari ancaman tersebut adalah munculnya kesombongan yang luar biasa. Kesombongan ini bukan sekadar rasa bangga biasa, melainkan penindasan dan penaklukan yang bersifat despotik. Setelah kehancuran pertama, mereka mendapatkan kesempatan untuk membangun kembali dan kembali mendapatkan kemuliaan di bumi. Namun, bukannya menjadi umat yang bersyukur, mereka justru tumbuh menjadi sombong, melanggar batas keadilan, dan bahkan membunuh utusan-utusan Allah (para nabi) yang datang membawa peringatan.

Kebinasaan Kedua

Puncak dari kesombongan dan kerusakan kedua adalah kehancuran yang lebih dahsyat, yang sering dikaitkan dengan penaklukan oleh Kekaisaran Romawi di bawah Jenderal Titus pada abad pertama Masehi. Baitul Maqdis dihancurkan total, perlawanan mereka dipadamkan dengan kejam, dan mereka diusir dari tanah suci mereka untuk waktu yang sangat lama. Ini adalah manifestasi nyata dari hukuman karena melampaui batas kesombongan yang telah diperingatkan sebelumnya dalam surah 17 ayat 5.

Pelajaran Bagi Umat Muslim Saat Ini

Meskipun ayat ini ditujukan secara spesifik kepada Bani Israil, pelajaran yang terkandung di dalamnya bersifat universal dan relevan bagi setiap umat yang menerima wahyu. Allah SWT menunjukkan bahwa siklus kehancuran sering kali dimulai dari dalam diri: kemaksiatan kecil yang berkembang menjadi kerusakan sistemik, ditutupi oleh lapisan kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran.

Kita diingatkan bahwa kenikmatan dan kekuasaan di bumi adalah titipan yang harus digunakan sesuai petunjuk Ilahi. Ketika sebuah masyarakat, atau bahkan individu, mulai merasa superior, menindas yang lemah, dan mengabaikan batas-batas moral dan etika yang ditetapkan Tuhan, maka benih kehancuran telah ditanam. Surah 17 Ayat 5 berfungsi sebagai cermin; ia menunjukkan bagaimana umat terdahulu jatuh, bukan karena serangan mendadak dari luar semata, tetapi karena penyakit internal berupa penyimpangan dan keangkuhan.

Oleh karena itu, merenungkan ayat ini mendorong kita untuk senantiasa introspeksi, menjaga kerendahan hati, dan memastikan bahwa kekuatan yang kita miliki, baik ilmu, harta, maupun kedudukan, tidak menjadikan kita melampaui batas dan akhirnya menuai hukuman yang telah Allah janjikan bagi mereka yang berbuat kerusakan berulang kali.

🏠 Homepage