Al-Qur'an adalah mukjizat abadi yang diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Di antara surah-surah yang memiliki keunikan tersendiri, Surah Al-Hijr menempati posisi istimewa, dimulai dengan penekanan kuat pada hakikat wahyu itu sendiri. Ayat 1 hingga 5 merupakan pembuka yang mendalam, menegaskan status Al-Qur'an dan dampaknya terhadap mereka yang merenungkannya. Memahami lima ayat pertama ini adalah kunci untuk memahami semangat yang dibawa oleh surah ini secara keseluruhan.
Lima ayat pertama Surah Al-Hijr (QS. 15:1-5) adalah fondasi yang kokoh. Ayat-ayat ini secara langsung membantah keraguan orang-orang musyrik pada masa itu yang menganggap Al-Qur'an hanyalah kumpulan syair atau sihir.
Ayat pembuka yang terdiri dari huruf-huruf terputus (Muqatta'at) selalu menimbulkan kekaguman mendalam. Ini adalah isyarat awal dari Allah bahwa meskipun ayat ini tersusun dari huruf-huruf biasa yang kita gunakan dalam percakapan sehari-hari, ia memiliki kedalaman makna dan struktur yang tak tertandingi.
Setelah huruf terputus, Allah segera menegaskan bahwa ayat-ayat yang dibacakan kepada Nabi Muhammad SAW adalah bagian dari Al-Kitab (Kitab Suci) dan sekaligus Al-Qur'an yang Mubin (yang menjelaskan/nyata). Sifat Mubin ini menunjukkan kejelasan ajaran, kemudahan dalam memahami inti pesannya, serta kemampuan Al-Qur'an untuk membedakan antara yang hak dan yang batil.
Ayat ketiga ini menyajikan ironi masa depan. Ayat ini memberi gambaran tentang penyesalan mendalam yang akan dialami oleh orang-orang yang saat ini menolak kebenaran. Penyesalan itu begitu kuat, sampai-sampai mereka berharap seandainya di dunia mereka mau tunduk (berserah diri) kepada Allah. Ini adalah peringatan keras tentang nilai keimanan yang sejati sebelum waktu penyesalan tiba.
Ayat ini menunjukkan sikap Allah terhadap penentang kebenaran yang terus-menerus menunda taubat. Allah memberi mereka waktu untuk menikmati kesenangan duniawi sesaat—makan, bersenang-senang—tetapi kesenangan itu dibatasi oleh angan-angan kosong yang melalaikan mereka dari tujuan akhir. Kata "Fasawfa Ya'lamun" (maka kelak mereka akan mengetahui) adalah ancaman yang pasti, janji pertanggungjawaban yang akan datang.
Ayat penutup dari rangkaian pembuka ini memberikan pelajaran historis. Kehancuran umat terdahulu bukanlah tindakan sewenang-wenang. Allah menegaskan bahwa setiap pemusnahan atau azab memiliki batas waktu dan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Kitab Ma'lum (catatan yang telah ditentukan). Ini menenteramkan hati Nabi Muhammad SAW dan umat Islam bahwa janji Allah—baik berupa pertolongan maupun hukuman—selalu tepat waktu sesuai dengan ketetapan-Nya.
Lima ayat pertama Surah Al-Hijr memberikan pengantar yang sangat kuat mengenai pentingnya Al-Qur'an sebagai petunjuk yang jelas. Ia memperingatkan tentang bahaya penundaan iman dan kepastian perhitungan di akhirat. Keindahan redaksi yang dimulai dengan misteri huruf terputus, dikombinasikan dengan janji kejelasan wahyu, seharusnya mendorong setiap pembaca untuk lebih mendalami dan mengamalkan isi kitab suci ini. Kontras antara penyesalan orang kafir dan kepastian ketetapan ilahi menjadi pelajaran abadi bagi kaum Muslimin untuk selalu teguh dalam keimanan.
Surah ini, yang namanya diambil dari nama sebuah lembah (Al-Hijr) tempat kaum Tsamud tinggal—yang kisahnya diuraikan lebih lanjut dalam surah—secara implisit mengingatkan bahwa kemajuan peradaban dan kemakmuran materi (seperti yang digambarkan dalam ayat 4: menikmati kesenangan dunia) tidak akan menyelamatkan dari azab jika disertai kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran yang telah diperingatkan. Ayat 1-5 menjadi landasan peringatan dan janji yang relevan hingga akhir zaman.