Surah Al-Hijr (Surah ke-15) adalah surah Makkiyah yang kaya akan kisah-kisah para nabi, peringatan tentang kekuasaan Allah, dan penjelasan mengenai penciptaan manusia. Di antara narasi yang mendalam dalam surah ini adalah dialog antara para malaikat yang diutus Allah untuk memberitakan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim AS, sekaligus menyampaikan azab kepada kaum Nabi Luth AS. Ayat-ayat yang menjadi fokus pembahasan kita, yaitu Surah Al Hijr ayat 28 dan 29, menyajikan inti dari perintah ilahi tersebut.
Konteks ayat ini sangat krusial. Sebelum ayat ini turun, para malaikat tersebut telah menyampaikan berita gembira kepada Nabi Ibrahim mengenai kelahiran Ishaq. Setelah itu, fokus mereka beralih pada misi penegakan azab terhadap kaum yang durhaka. Ayat-ayat ini menunjukkan kepatuhan mutlak para malaikat kepada titah Tuhan, terlepas dari urgensi tugas yang diemban.
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa tugas para utusan Allah adalah menjalankan perintah tanpa penundaan atau pertimbangan pribadi. Mereka adalah representasi sempurna dari ketaatan total kepada Pencipta alam semesta.
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُوْنٍ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk."فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ
"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan roh (ciptaan-Ku) kepadanya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."Dua ayat ini, meski pendek, memuat dua peristiwa fundamental dalam sejarah penciptaan: proses pembentukan fisik Adam AS dan perintah penghormatan tertinggi dari seluruh malaikat. Bagian pertama (Al Hijr ayat 28) menjelaskan bahan baku penciptaan manusia: shalshal min hama'in masnun (tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk).
Penyebutan detail mengenai bahan baku ini menunjukkan kehinaan materi fisik manusia di hadapan keagungan Allah. Manusia, pada dasarnya, berasal dari substansi yang sederhana—lumpur yang berbau. Namun, dari kehinaan materi inilah Allah hendak memuliakan kedudukannya dengan memberikan akal dan kehendak bebas.
Puncak dari proses penciptaan ini terdapat dalam Al Hijr ayat 29: "dan telah meniupkan roh (ciptaan-Ku) kepadanya". Peniupan roh adalah prerogatif Ilahi yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Roh (Ruh) adalah misteri yang dikaitkan langsung kepada Allah, yang memberikan kesadaran, potensi intelektual, dan kapasitas untuk beribadah.
Ayat tersebut diakhiri dengan perintah tegas: "maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." Sujud yang diperintahkan kepada para malaikat bukanlah sujud ibadah (karena hanya Allah yang berhak disembah), melainkan sujud penghormatan (penghormatan status). Penghormatan ini diberikan karena Allah telah menganugerahkan kepada Adam potensi ilmu pengetahuan yang diajarkan secara langsung.
Kisah ini memberikan pelajaran penting bagi umat Islam mengenai kedudukan manusia. Walaupun manusia diciptakan dari tanah, namun melalui anugerah ilmu dan peniupan ruh, ia mendapatkan kehormatan agung di mata Pencipta, sehingga makhluk mulia seperti malaikat diperintahkan untuk tunduk menghormati kedudukan tersebut.
Ayat 28 dan 29 Al Hijr mengajarkan tentang kerendahan hati (mengingat asal mula dari lumpur) dan sekaligus kesadaran akan martabat (mengingat karunia ruh dan ilmu). Bagi seorang mukmin, ayat ini menjadi pengingat bahwa meskipun kita memiliki kelemahan fisik, potensi spiritual dan intelektual yang ditanamkan Allah melalui ruh adalah modal utama untuk meraih kemuliaan di sisi-Nya. Oleh karena itu, penyesalan dan rasa syukur harus selalu menyertai setiap langkah manusia dalam menjalani kehidupan di bumi.