Tafsir dan Hikmah Ayat Mulia
Ilustrasi konsep keagungan Tuhan Yang Maha Tahu atas semua makhluk.
Ayat ini merupakan bagian dari rangkaian ayat yang menjelaskan tentang keesaan Allah SWT dan penolakan terhadap politeisme, khususnya mengenai klaim bahwa orang kafir tidak memerlukan para rasul.
Ayat ini secara tegas menantang kaum musyrikin yang menyembah selain Allah. Allah menegaskan bahwa objek-objek sesembahan mereka (berhala atau tandingan lainnya) tidak memiliki kekuatan sedikit pun untuk menghilangkan kesulitan (dhurr) maupun mengubah (sharf) kesulitan tersebut dari orang yang menyembahnya.
Konteks utama dari Surah Al-Isra ayat 55 adalah penegasan mutlak terhadap konsep Tauhid (Keesaan Allah). Ketika kaum Quraisy menolak kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ, mereka seringkali berpegang teguh pada tradisi nenek moyang yang menyembah patung-patung sebagai perantara atau tuhan-tuhan sekunder.
Ayat ini mematahkan logika tersebut dengan pertanyaan retoris: Bagaimana mungkin sesuatu yang kalian sembah mampu melakukan sesuatu yang bahkan penciptanya sendiri (Allah) tidak mengizinkannya? Kekuasaan untuk menghilangkan atau memindahkan kesulitan adalah hak prerogatif tunggal Allah SWT.
Dalam kehidupan sehari-hari, kesulitan bisa berupa penyakit, kelaparan, ketakutan, atau bencana alam. Ayat ini mengajarkan bahwa hanya kepada Allah semata kita harus berlindung dan memohon pertolongan ketika ditimpa musibah, karena selain Dia, tidak ada yang memiliki otoritas untuk mengubah nasib buruk menjadi baik.
Ayat 55 seringkali dibaca beriringan dengan ayat 56 untuk memberikan gambaran lengkap. Ayat 56 melanjutkan dengan firman Allah:
"(Orang-orang yang mereka seru itu) sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat kepada Tuhan; mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya."
Jika sesembahan selain Allah itu sendiri membutuhkan pendekatan (taqarrub) kepada Tuhan yang sebenarnya (Allah), maka jelaslah bahwa menyembah mereka adalah perbuatan sia-sia dan kesesatan yang nyata. Ayat 55 membuktikan kelemahan tandingan Allah, sementara ayat 56 menunjukkan kebutuhan tandingan tersebut untuk kembali kepada Sumber Kekuatan Sejati.
Dalam konteks web modern yang didominasi oleh perangkat seluler, kejelasan pesan adalah kunci. Surah Al-Isra ayat 55 menawarkan kejelasan absolut tentang sumber daya dan perlindungan sejati. Ini adalah pengingat yang kuat bahwa di tengah kerumitan hidup modern, mencari solusi di luar batas kemampuan Allah (melalui kesyirikan terselubung atau ketergantungan berlebihan pada makhluk) adalah sia-sia.
Ayat ini mengarahkan hati seorang mukmin untuk senantiasa mengarahkan harapannya kepada Al-Khaliq (Sang Pencipta), Yang Maha Mengetahui segala bentuk kesulitan yang kita hadapi, dan Maha Kuasa untuk menghilangkannya atau menjadikannya pelajaran berharga. Ketegasan makna ini sangat relevan dalam berbagai situasi krisis, menegaskan perlunya ketergantungan total hanya kepada Allah SWT.